P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

Hujan yang Terabaikan

Leave a comment

Purwanti Sri Pudyastuti
Pengajar Universitas Muhammadiyah Surakarta, Alumnus Water, Engineering and Development Centre, Loughborough University, Inggris

Musim hujan telah berlangsung, dan sawah-sawah yang sebelumnya kering telah tergenang. Banjir bandang pun telah melanda beberapa daerah di Indonesia. Sungguh suatu kondisi yang sangat kontras jika dibandingkan dengan musim kemarau yang baru saja berlalu yang menimbulkan kekeringan di mana-mana. Air hujan yang kita harapkan kedatangannya waktu kita dilanda kekeringan kini menjelma menjadi ancaman dan sumber malapetaka di beberapa daerah.

Pastilah ada yang salah dengan kita dalam mengelola alam dan sumber daya yang ada di dalamnya. Hujan adalah suatu anugerah yang diberikan oleh Allah SWT untuk umat-Nya. Maka seharusnya sangat bermanfaat bagi kehidupan di alam ini. Sebagaimana disebutkan dalam QS Ibrahim: 32-34, “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, dan kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rejeki untukmu”.

Selain itu, Allah SWT juga berfirman dalam QS Al-Furqan: 48-49, “Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.” Selain ayat-ayat tersebut, masih ada beberapa ayat lain dalam Alquran yang berisi penjelasan tentang anugerah nikmat berupa air hujan.

Dalam ilmu hidrologi, hujan adalah salah satu proses dalam siklus air yang bermanfaat untuk mengisi cekungan-cekungan seperti danau dan waduk, sungai, dan cekungan air tanah yang bermanfaat bagi makhluk hidup di alam ini. Lalu, mengapa air hujan menjadi sumber bencana dan malapetaka tak terhindarkan yang terjadi setiap tahun di negeri ini? Ada banyak faktor penyebabnya, salah satunya adalah manusia yang tidak bijak dalam mengelola alam dan lingkungannya sehingga daya rusak air hujan menjadi tak terkendali.

Yang terabaikan
Curah hujan rerata per tahun di Indonesia adalah lebih dari 1000 mm. Saat hujan turun di lingkungan kita, pernahkah terpikirkan berapa volume air hujan yang jatuh di lingkungan kita jika kita tampung? Menurut Smet (2003), misalkan hujan rata-rata yang jatuh di sebuah gedung dengan luas atap 200 meter persegi adalah 1.000 mm per tahun, maka volume air hujan yang dapat ditampung dari atap gedung tersebut adalah sekitar 0,8 x 1000 x 200 = 160 ribu liter/tahun. Bisa dibayangkan betapa kayanya negeri ini dengan sumber air hujan.

Namun selama ini, air hujan di negeri ini belum dikelola secara optimal dan masih dibiarkan mengalir begitu saja. Hanya sebagian kecil air hujan di negeri ini yang ditampung oleh waduk dan danau yang jumlahnya hanya segelintir, dan itu pun sudah terancam oleh sedimentasi. Ketika kondisi daerah tangkapan air rusak akibat pembabatan hutan, pengolahan lahan, dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak berwawasan lingkungan, maka air hujan pun menjadi sumber bencana berupa banjir dan tanah longsor di negeri ini.

Menurut Swedish Water House (2005), sumber utama air segar (freshwater) baik di permukaan tanah maupun di bawah tanah di dunia ini adalah air hujan. Namun keberadaan air hujan di negeri ini masih diabaikan. Air hujan yang turun di negeri ini sebagian besar hanya dibiarkan mengalir begitu saja ke saluran drainase lalu menuju ke sungai dan berakhir ke laut.

Sebaiknya kita belajar dari negara lain yang lebih bijak dalam mengelola air hujan, seperti Amerika Serikat, Thailand, India, Inggris, dan Jepang. Di negara-negara tersebut, air hujan ditampung dan dikelola dengan baik dan tidak dibiarkan mengalir begitu saja menuju sungai dan laut, sehingga selain dapat mengurangi ancaman banjir juga bermanfaat dalam pemenuhan kebutuhan air sehari-hari untuk mengisi kembali cekungan-cekungan air tanah (Smet, 2003).

Sistem Penampungan
Dalam UU No 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air disebutkan bahwa salah satu usaha konservasi air adalah dengan melakukan pengawetan air di antaranya dengan cara menampung air hujan. Air hujan dapat ditampung dalam suatu sistem penampung air hujan, baik di atas permukaan tanah maupun di bawah tanah (Skinner, 2004), di antaranya dengan cara menampung air hujan yang jatuh melewati atap-atap bangunan.

Sistem penampungan air hujan skala kecil akan lebih menghemat biaya daripada membangun bendungan yang mahal secara ekonomis, teknis, dan sosial. Dengan menampung air hujan di penampungan air hujan baik di atas permukaan maupun di bawah permukaan, ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh. Pertama, mengurangi limpasan permukaan sehingga dapat mengurangi potensi banjir.

Kedua, air hujan yang ditampung dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari dengan biaya yang relatif murah jika sumber air yang lain tidak layak. Ketiga, dengan menampung air hujan dan memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari maka akan mengurangi eksploitasi air tanah sehingga akan melestarikan ketersediaan air tanah. Keempat, dengan menampung air hujan dalam sumur resapan di bawah tanah akan meningkatkan pengisian kembali cekungan air tanah.

Melihat kenyataan bahwa di musim hujan kita dihantui masalah banjir dan sebaliknya di musim kemarau dihantui masalah kekeringan, tampaknya kita harus belajar lebih bijak dalam mengelola air hujan yang telah dilimpahkan Allah SWT ke negeri ini. Dengan demikian kita tidak sampai menjadikan hujan hanya sebagai sumber air yang terabaikan.

Tulisan ini dimuat di harian Republika pada Desember 2006.

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=277451&kat_id=16&kat_id1=&kat_id2=

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s