P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

Kekeringan yang Memiskinkan

Leave a comment

Purwanti Sri Pudyastuti
Pengajar Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Surakarta, Alumnus Water, Engineering and Development Centre, Loughborough University, Inggris

Akhir-akhir ini berita terkait dengan kekeringan banyak muncul di media massa. Seperti telah dialami tahun-tahun sebelumnya, kekeringan yang ditandai dengan menyusutnya debit air di danau, sungai, waduk, dan badan-badan air yang lain akan menimbulkan berbagai masalah yang akan merugikan berbagai sektor termasuk sektor pangan, penyediaan listrik, dan pemenuhan kebutuhan air masyarakat. Menyusutnya debit air di waduk menyebabkan lahan sawah di beberapa daerah mengalami kekeringan, dan dikhawatirkan akan mengganggu sektor pangan.

Selain itu, sektor penyediaan listrik juga akan terganggu jika debit air di waduk PLTA tidak lagi memenuhi syarat untuk menggerakkan turbin. Menyusutnya debit air di sungai-sungai di luar Jawa juga akan mengganggu kelancaran transportasi air yang akan berdampak ke sektor ekonomi. Berita tentang konflik antarpengguna air yang akan mempengaruhi stabilitas keamanan juga sudah muncul di surat kabar lokal. Jika dianalisis lebih lanjut, masalah kekeringan yang terkait erat dengan pengelolaan sumber daya air ternyata berpengaruh terhadap permasalahan ekonomi dan sosial.

Air dan pembangunan ekonomi
Menurut Stockholm International Water Institute (SIWI, 2005), manajemen sumber daya air untuk mendukung pertumbuhan produksi pertanian dan sektor pangan menghadapi dua tantangan. Di satu sisi, pertumbuhan pertanian yang berkelanjutan akan membutuhkan peningkatan efisiensi penggunaan air yang sesuai dengan ketersediaannya. Di sisi yang lain, pertanian yang berkelanjutan juga memerlukan perlindungan terhadap kejadian-kejadian ekstrem terkait dengan sumber daya air, yaitu kekeringan dan kejadian banjir.

Berdasarkan laporan SIWI (2005), sebagian besar penduduk miskin di negara berkembang bekerja pada sektor pertanian dan pangan, namun produktivitasnya dalam menyumbang GDP sangat rendah. Oleh karena itu strategi pengurangan angka kemiskinan akan lebih efektif jika mempertimbangkan keterkaitan antara produksi pangan dan manajemen sumber daya air.

Selain sektor pertanian dan pangan, manajemen sumber daya air juga berpengaruh terhadap sektor industri, penyediaan air bersih, penyediaan listrik, dan pelestarian lingkungan. Menurut UN Millenium Task Force on Water and Sanitation (2005), investasi pada pengembangan dan pengelolaan sumber daya air akan memberikan kontribusi terhadap pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs) yang antara lain mengurangi angka kemiskinan. Sehingga manajemen sumber daya air terpadu yang berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kejadian kekeringan merupakan bencana alam yang disebabkan oleh beberapa hal, seperti kondisi klimatologi, perubahan iklim global, dan dampak pengelolaan sumber daya alam (termasuk sumber daya air dan lahan) yang tidak berkelanjutan. Masyarakat miskin baik di perkotaan maupun pedesaan merupakan masyarakat yang rentan terhadap bencana alam kekeringan. Ketika akses terhadap sumber air terbatas akibat kekeringan, yang sangat merasakan dampaknya adalah masyarakat miskin.

Sebagai ilustrasi, masyarakat miskin di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada musim kemarau harus berjalan kaki beberapa kilometer hanya untuk mendapatkan sepikul air untuk kebutuhan rumah tangga. Waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh air dapat mengurangi produktivitas mereka, sehingga dapat mengurangi penghasilan yang mereka terima. Ini terjadi karena waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja mencari nafkah menjadi berkurang hanya untuk mendapatkan sepikul air. Apalagi jika sudah tidak ada sumber air yang dapat diharapkan, mereka harus membeli air ke penjual air, sehingga uang yang seharusnya digunakan untuk keperluan yang lain beralih penggunaan untuk membeli air. Kondisi ini bukan tidak mungkin akan meningkatkan angka kemiskinan di Indonesia, karena kondisi seperti ini dapat ditemui di banyak daerah di Indonesia pada musim kemarau.

Pengelolaan kekeringan
Agar kerugian akibat bencana kekeringan dapat ditekan, masyarakat dan pemerintah harus bersama-sama mengelola kekeringan. Selama ini, untuk mengurangi kekeringan, pemerintah juga perlu menerapkan teknologi modifikasi cuaca berupa hujan buatan di beberapa tempat. Namun, tidak semua daerah yang mengalami kekeringan bisa menikmati teknologi modifikasi cuaca, karena biaya yang diperlukan untuk membuat hujan buatan itu sangatlah mahal. Selain persoalan biaya, saat ini juga masih ditemui pihak yang pro dan pihak yang kontra di kalangan masyarakat tentang penggunaan teknologi modifikasi cuaca tersebut.

Untuk jangka pendek, sebenarnya perlu menggalakkan gerakan hemat air dan menerapkan teknologi water reuse dan water recycle untuk mengurangi masalah kekeringan. Perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan industri dapat dilibatkan untuk merancang teknologi water reuse dan water recycle yang murah, tepat, dan sederhana. Gerakan hemat air perlu dimasyarakatkan sejak dini di sekolah-sekolah agar generasi yang akan datang lebih bijak dalam memanfaatkan sumber air. Gerakan hemat air ini sangatlah penting untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air di masa mendatang.

Untuk jangka panjang, mungkin pemerintah dan pihak yang terkait perlu meningkatkan investasi dalam bidang sumber daya air dengan membangun infrastruktur keairan, melaksanakan program-program konservasi air, dan lahan, serta menerapkan pengelolaan sumber daya air terpadu dan berkelanjutan. Tentu saja, langkah besar ini memerlukan pendekatan multidisipliner. Jika kita bisa mengatasi kekeringan, mudah-mudahan angka kemiskinan juga bisa dikurangi sehingga target MDGs bukan sekadar mimpi dan slogan, tetapi bisa benar-benar menjadi kenyataan yang dapat tercapai.

Tulisan ini dimuat di harian Republika pada 4 September 2007.
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=305628&kat_id=16

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s