P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

Merawat Sumber Kehidupan

1 Comment

Purwanti Sri Pudyastuti
Pengajar Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Surakarta, Alumnus Water, Engineering and Development Centre, Loughborough University, Inggris

Saat ini sebagian masyarakat di Indonesia mungkin dilanda kekhawatiran terkait dengan air dengan penyebab yang berbeda-beda. Sebagian masyarakat di beberapa wilayah mengkhawatirkan bahaya yang mengancam akibat daya rusak air saat debit air berlebihan. Daya rusak itu terlihat jelas saat terjadi banjir dan tanah longsor. Sebagian masyarakat yang lain di beberapa wilayah di pulau Jawa, terutama petani padi, juga merasa khawatir karena hujan yang dinanti-nanti kedatangannya untuk beberapa saat berhenti.

Otoritas pengelola waduk di beberapa tempat di pulau Jawa mungkin juga khawatir karena volume air di waduk tidak juga meningkat sehingga dikhawatirkan airan air di irigasi, juga distribusi air untuk keperluan yang lain tidak dapat dilayani secara optimal. Kekhawatiran itu bertambah besar dengan adanya ancaman wabah penyakit yang terkait dengan sumber air. Saat ini sepertinya permasalahan terkait dengan air menjadi semakin kompleks dan penanganannya semakin rumit.

Air adalah kekayaan alam yang sangat penting bagi makhluk hidup di dunia, karena air adalah sumber kehidupan. Dalam QS Al Anbiya : 30, Allah SWT berfirman, “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu hidup.” Selain itu, Yusuf Al Qaradhawi (2001) juga menyebutkan bahwa dalam Alquran juga dijelaskan, Allah SWT menurunkan air dalam ukuran tertentu yang disediakan di laut, sungai, danau, dan berupa air hujan. Beliau menafsirkan bahwa air yang disediakan Allah SWT kuantitasnya terbatas, sehingga harus dikelola sebaik-baiknya.

Dari sudut pandang ilmu hidrologi, Postel dkk (1996) menyebutkan bahwa siklus air adalah sistem tertutup sehingga jumlah air sebenarnya adalah tetap. Ketika jumlah penduduk terus meningkat dari waktu ke waktu, maka kebutuhan akan air juga meningkat. Sementara jumlah airnya tetap. Oleh karena itu, permasalahan terkait dengan air makin kompleks dari waktu ke waktu.

Air dan permasalahannya
Tantangan utama terkait dengan air di Indonesia saat ini adalah jumlah yang berlebihan pada musim hujan, kekeringan pada musim kemarau, penyediaan air bersih yang belum merata, dan sumber air yang tercemar. Jumlah air yang berlebihan pada musim hujan menyebabkan berbagai masalah seperti banjir, erosi, tanah longsor, dan penyebaran penyakit menular seperti diare dan demam berdarah sulit dihindari.

Di sisi lain, kekeringan merupakan ancaman serius pada musim kemarau. Sumber air yang tercemar juga menjadi masalah yang harus segera dicari penyelesaiannya. Pencemaran sumber air di Indonesia antara lain bisa terlihat nyata pada kondisi sungai di Indonesia. Sejatinya, sungai adalah sumber air permukaan yang sangat potensial jika kita benar mengelolanya.

Di negara-negara Barat, kita akan lebih mudah menemukan sungai-sungai yang mengalir dengan air yang jernih dan menjadi sumber utama penyediaan kebutuhan air untuk warganya. Sebaliknya di Indonesia, kita akan mudah menemukan sungai yang menjadi tempat sampah raksasa. Sungai menjadi tempat pembuangan limbah, tidak hanya limbah padat, namun juga limbah cair dari industri. Lebih parah lagi, bantaran banjir di banyak sungai di Indonesia sudah tidak lagi menjadi hak sungai yang digunakan untuk mengalirkan air saat debit besar, tetapi sudah direbut oleh manusia untuk menjadi lahan permukiman karena faktor kemiskinan.

Begitu musim hujan tiba, bencana banjir akibat sungai tidak lagi mampu menampung debit air yang mengalir menjadi ancaman bagi semua pihak dan merugikan berbagai sektor. Selain itu, sumber air bawah permukaan pun terancam oleh pencemaran akibat buruknya sistem sanitasi lingkungan dan eksploitasi air tanah yang berlebihan. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk menyelesaikan permasalahan ini jika kita ingin generasi yang akan datang masih bisa menikmati sumber air yang sama dengan kita. Tidak hanya menjadi tugas pemerintah, namun juga menjadi tugas masyarakat luas untuk mengatasi problema terkait dengan sumber air.

Peran pemuka agama
Dalam konteks agama Islam, Indonesia sebagai negara dengan jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia mestinya lebih mempunyai kepedulian terhadap kelestarian sumber air sebagai sumber kehidupan. Islam adalah agama yang mengajarkan kebersihan dan kesucian untuk menyempurnakan ibadah, sehingga menjaga kebersihan dan kelestarian sumber air adalah suatu keharusan bagi seorang Muslim.

Seorang Muslim tidak akan bisa bersuci dengan sempurna jika tidak tersedia air bersih dalam jumlah yang memadai. Air sungai yang sebenarnya mensucikan, jika tercemar oleh limbah padat dan cair, tidak akan layak lagi digunakan untuk bersuci. Menurut Yusuf Al Qaradhawi (2001), Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Janganlah salah seorang kalian kencing di air yang diam, atau di air yang tidak mengalir, kemudian mandi di sana.”

Selain itu, Rasulullah Muhammad SAW juga melarang umatnya untuk membuang air besar di sumber air dan melarang menggunakan air secara berlebihan sekalipun di sungai yang mengalir. Dengan adanya tuntunan-tuntunan tersebut, baik yang tertuang dalam Alquran maupun Hadis, sebenarnya para pemuka agama Islam dapat mengajak umat untuk melestarikan sumber air, dan mungkin akan lebih efektif dalam menyadarkan umat untuk melestarikan sumber air.

Selama ini, materi yang disampaikan dalam khutbah Jumat atau pengajian sebagian besar adalah hal-hal yang terkait dengan ibadah personal seperti shalat, puasa, zakat, shadaqah, dan sebagainya. Sangat jarang materi khutbah atau ceramah yang berisikan pengelolaan lingkungan termasuk pelestarian sumber air. Untuk itu, peranan pemuka agama di Indonesia, terutama pemuka agama Islam sangat diperlukan untuk membantu menyadarkan masyarakat luas agar bersama-sama berupaya melestarikan lingkungan termasuk merawat dan melestarikan sumber air sebagai sumber kehidupan. Dengan cara itu, kita berharap bisa mewariskan mata air untuk anak cucu kita, bukan mewariskan air mata.

Tulisan ini dimuat di harian Republika pada 4 Desember 2007.
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=315938&kat_id=16

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

One thought on “Merawat Sumber Kehidupan

  1. Sudah jelas di depan mata, konflik “Air” akan segera meluas di Indonesia.

    Cirebon, Babad (lamongan), Umbulan Surabaya dll.

    Hampir di semua daerah, apalagi setelah teknology (pompanisasi) telah merakyat..!!

    Dulu dikampung kami, Ambil air untuk pengairan dilakukan dengan budaya “GILIR” dengan musyawarah…. makanya ada Jogo Tirto yang bertugas sebagai penengah.

    Setelah ada pompa, dan setelah legitimasi Jogo-Tirto tidak lagi ada…Orang jadi Sulit alias susah di atur.

    Bukan pompanya yang salah…pemerintah yang tak kunjung memperbaiki saluran tersier hasil repelita pak Harto.

    Jadinya sekarang urusan air sudah pakai hukum rimba… siapa kuat dia yang dapat.

    Apa yang bisa saya sumbangkan untuk anda?
    Jika anda memakai air dalam jumlah yang banyak untuk proses produksi, tentu anda punya kewajiban “menghemat” air tersebut, anda juga perlu meningkatkan effisiensi penggunaan air untuk industri, Insya Allah saya bisa membantu melakukan pengolahan awal, pengolahan khusus (lanjutan) serta melakukan Recycling-plan.

    Mujiaman

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s