P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

Perspektif Jender dalam Pengelolaan SDA

Leave a comment

Sumber daya air merupakan salah satu sumber daya alam yang keberadaannya sangat vital untuk kehidupan manusia dan lingkungannya. Seiring dengan pertumbuhan penduduk, perkembangan aktivitas industri dan pembangunan di segala sektor, permasalahan terkait dengan sumber daya air dari waktu ke waktu semakin kompleks.

Dalam kaitan dengan jender, Lidonde dkk (2002) menyebut, jender mengacu pada perbedaan antara pria dan perempuan dalam peran, sumber daya yang dimiliki, pengalaman dan aspek kebudayaan yang dialami dan dipelajari pada masa tumbuh kembang di lingkungannya.

Peran dan sumber daya yang dimiliki pria dan perempuan berbeda untuk tiap kelompok dan akan selalu berubah seiring dengan waktu. Di beberapa tempat sering kali perempuan tidak mempunyai kesempatan, kekuatan, atau pengaruh yang sama dengan pria. Kepedulian terhadap jender memerlukan pemahaman bahwa setiap kebijakan, program, dan proyek akan memberikan pengaruh secara tidak sama kepada pria dan perempuan.

Mendorong kesamaan partisipasi antara pria dan perempuan sebagai agen perubahan dalam proses ekonomi, sosial, dan politik sangat diperlukan dalam mencapai pembangunan yang peka terhadap permasalahan jender. Berdasarkan data Human Development Report UNDP (2003), indikator Gender-related Development Index Indonesia menduduki peringkat 91, jauh di bawah Malaysia yang ada di peringkat 54.

Kesamaan partisipasi antara pria dan perempuan sebagai agen perubahan meliputi kesamaan hak dalam menyuarakan keinginan dan kepentingannya, menentukan visi terhadap kelompoknya, dan berperan dalam penentuan kebijakan yang akan memengaruhi kehidupannya.

Jender dan pengelolaan air

Menurut Conley & Midgley (1988, dalam Lidonde, 2002), pengelolaan sumber daya air (SDA) terpadu adalah pendekatan manajemen strategis yang mempertimbangkan keberagaman dan saling ketergantungan di antara para pengguna SDA dalam konteks sosial, lingkungan, ekonomi, dan budaya.

Salah satu prinsip Dublin Principles yang dideklarasikan di konferensi internasional air dan lingkungan di Dublin, Januari 1992, menyebutkan, perempuan berperan penting dalam penyediaan, pengelolaan, dan pelestarian sumber daya air.

Prinsip tersebut disusun karena peran perempuan sebagai pelaku utama dalam pengelolaan air. Dalam rumah tangga, misalnya, aktivitas seperti mencuci, membersihkan rumah dan memasak, sebagian besar adalah tanggung jawab perempuan.

Pelaksanaan prinsip di atas perlu kebijakan positif yang mengarah kepada pengakuan bahwa perempuan mempunyai keinginan dan kepentingan spesifik dalam pengelolaan SDA dan diperlukan pemberdayaan perempuan untuk aktif dalam pengelolaan SDA.

Dalam Agenda 21, hasil konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai lingkungan di Rio de Janeiro tahun 1992 disebutkan, pengelolaan SDA terpadu pada wilayah sungai dilakukan berdasarkan pendekatan partisipasi publik yang melibatkan peran perempuan, generasi muda, dan komunitas lokal dalam penetapan kebijakan pengelolaan SDA. Program Water for Life Decade yang dicanangkan PBB menyebutkan, perempuan merupakan pemeran utama dalam penyediaan, pengelolaan, dan pelestarian SDA.

UN-Water (2005) juga merekomendasi beberapa aksi dalam kaitannya dengan program Water for Women, antara lain melibatkan perempuan dan pria dalam penentuan kebijakan; memerhatikan keleluasaan pribadi, dan keamanan untuk perempuan terkait dengan lokasi dan desain fasilitas sanitasi; meningkatkan akses terhadap air untuk semua; dan mendorong kesamaan kesempatan antara pria dan perempuan dalam program pelatihan dan pendidikan pengelolaan SDA dan sanitasi.

UU No 7/2004

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air adalah acuan dalam pengelolaan SDA di Indonesia. Dijelaskan, SDA dikelola berdasarkan asas kelestarian, keseimbangan, kemanfaatan umum, keterpaduan dan keserasian, keadilan, kemandirian, serta transparansi dan akuntabilitas. Juga disebutkan, SDA dikelola menyeluruh, terpadu, dan berwawasan lingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan SDA yang berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Jika dicermati ayat demi ayat, tidak ada satu ayat pun yang menyinggung perspektif jender di dalamnya. Lalu di mana posisi perempuan dalam pengelolaan SDA di Indonesia? Walaupun tidak tercantum dalam UU, kenyataan menunjukkan perempuan di Indonesia telah berperan dalam pengelolaan SDA.

Di beberapa daerah telah dilaksanakan program pemberdayaan perempuan dalam pengelolaan SDA atau dalam pengelolaan air irigasi.

Purwanti Sri Pudyastuti Pengajar Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan Alumni Water, Engineering, and Development Centre (WEDC), Loughborough University, UK

Tulisan ini dimuat di harian Kompas pada Oktober 2006.


http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0610/02/swara/2988049.htm

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s