P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

PENDIDIKAN DAN BUDAYA

Leave a comment

Suatu pagi yang cerah, aku mengendarai sepeda motor memboncengkan Ibu-ku, sementara suamiku mengendarai motor kakak iparku beriringan melintasi jalan sebuah perumahan di kelurahan Candi Gebang, Yogyakarta. Tiba-tiba mobil di depanku berhenti, dan aku celingukan mencari sebab kenapa mobil itu berhenti. Ternyata di depan mobil itu ada mobil sedan Honda Jazz warna hitam yang berhenti tepat di belokan suatu pertigaan dengan posisi yang menurutku tak masuk akal. Lalu dari Honda Jazz hitam tersebut keluarlah seorang perempuan berwajah putih (yang menurutku sih putih karena treatment di salon, bukan putih alami seperti Catherine Zeta-Jones atau Kate Winslet), dengan wajah tipikal orang Indonesia, tentu saja, bukan orang bule. Perempuan itu kemudian sedikit berlari sambil teriak “Ayo…jangan lari…”, dan sepertinya mengejar ABG bersepeda motor. Aku masih belum tahu ada apa gerangan dengan perempuan itu sehingga memarkir mobilnya dengan posisi yang mengganggu pengguna jalan yang lain. Ooo…rupanya anak ABG bersepeda motor itu menyerempet sedikit bagian body Honda Jazz milik perempuan bermuka putih itu,…begitu kata suamiku yang berada di belakangku. Well… berarti ini penyakit moral nomor sekian yang kutemui di jalan!!!
Apakah seorang pengendara mobil yang mobilnya terserempet berhak untuk memarkir mobilnya sembarangan dan mengganggu pengguna jalan yang lain?? Lalu apa bedanya dia dengan pengendara sepeda motor ugal-ugalan yang masih ingusan dan mungkin SIM-pun belum berhak untuk mendapatkannya, yang menyerempet sebagian kecil body mobilnya?? Kejadian lain yang membuatku makin frustasi memikirkan begitu banyak orang yang seenaknya di jalan adalah sebuah berita di Kompas yang memuat kecelakaan lalulintas yang menewaskan 3 orang (ayah, ibu, dan anak berumur 6 tahun. Sang ayah ibu berprofesi sebagai pedagang masakan kakilima) di sebuah kota di Jawa Timur karena ditabrak sebuah mobil sedan Mercedez Benz yang dikendarai dalam keadaan mabuk. Akhirnya, aku berkesimpulan bahwa budaya tidak berbanding lurus dengan materi yang dimiliki seseorang. (Budaya yang kumaksud di sini bukan saja seni tradisional, bahasa daerah, dan sejenisnya, … tetapi budaya santun, budaya menghormati hak orang lain, budaya membuang sampah pada tempatnya, budaya malu, budaya hemat air,…pokoknya budaya yang terkait dengan perilaku seseorang). Seseorang yang bermobil mewah belum tentu mempunyai budaya santun di jalan. Orang dengan materi berlimpah belum tentu paham akibat buruk dari mengendarai mobil dalam keadaan mabuk minuman beralkohol.
Kadang aku menjadi sinis, dan berpendapat bahwa orang-orang yang menurutku tidak berbudaya santun di jalan termasuk dalam golongan uneducated people. Padahal mungkin mereka juga berpendidikan sarjana atau mungkin lebih tinggi. Apakah ada yang salah dengan pendidikan di Indonesia, sehingga makin banyak orang egois di negeri ini yang tak bisa menghormati kepentingan orang lain, sehingga angka kriminalitas dan angka kecelakaan makin meningkat, perempuan hampir tak berbusana yang syaraf malunya tak berfungsi lagi makin banyak muncul di layar televisi, korupsi merajalela?? Apa yang salah??
Waktu aku masih sekolah dulu, guru-guruku berkata bahwa orang Indonesia berbudaya luhur. Ah…, saat ini menurutku itu tak 100% benar, bahkan mungkin cuma slogan. Lihat saja di terminal atau di stasiun, orang selalu berebut untuk lebih dahulu dilayani tanpa mengantri. Lihat juga orang kaya yang mengebor sumber lumpur di Sidoarjo yang sepertinya tenang-tenang saja melihat puluhan ribu orang menderita akibat ulahnya. Lihat juga wakil rakyat yang tak malu waktu adegan mesumnya dengan wanita bukan istrinya bisa diakses bebas di internet. Lihat juga koruptor yang katanya cucu seorang pahlawan tetapi tenang-tenang saja waktu divonis untuk menetap di hotel prodeo untuk kedua kalinya karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi lagi. Lihat juga banyak orang yang dengan mudah membuang sampah lewat jendela mobilnya. Lihat juga orang-orang yang tanpa malu membuang hajat di sembarang tempat terbuka.
Aku jadi ingat waktu masih tinggal di negeri Ratu Elizabeth bersama suami dan anak-anakku beberapa tahun yang lalu. Hari-hari pertama aku tinggal di negara kerajaan itu, aku menganggap Indonesia adalah surga dunia. Namun makin lama aku makin merasakan bahwa negeri Pangeran Charles itu lebih surga daripada Indonesia. Kenapa? Karena lebih berbudaya. Anak kecil-pun di sana tertib membuang sampah pada tempatnya. Ketika kita di jalan, orang berebut untuk mengalah,…mengalah mengerem mobilnya untuk memberi kesempatan pejalan kaki menyeberang dengan aman. Ketika di dalam bis kota, anak-anak muda berebut untuk memberikan tempat duduk kepada para perempuan, anak-anak, dan orang tua. Di sana kesehatan (kecuali gigi dan mata) gratis, karena kesehatan adalah hak manusia supaya bisa menjalani hidup di dunia dengan baik, sehingga juga bisa beribadah dengan sempurna. Di sana tak ada orang kencing di sembarang tempat. Di sana orang tak sembarangan membuang sampah di sungai. Di sana wanita bercadar pun dilayani dengan baik ketika menggunakan fasilitas-fasilitas umum. Pokoknya menurutku laksana surga deh… Kok bisa ya? Kuncinya mungkin ada pada sistem pendidikan yang berhasil menjadi sarana pemanusiaan dan pembudayaan, sehingga menghasilkan manusia yang benar-benar manusia dan berbudaya. Dan yang pasti, orang-orang di sana memang educated, karena sekolah sampai jenjang SMA adalah wajib hukumnya (karena wajib, maka mulai pre-school sampai SMA gratis).
Dan akhirnya, menurutku pendidikan di negeri ini harus diprioritaskan supaya menghasilkan manusia utuh dan berbudaya, sehingga suatu saat negeri ini benar-benar akan menjadi surga (tapi bukan surga narkoba dan surga mesum yang mempermudah tiket ke neraka lho…). Tentu saja dengan sistem pendidikan yang musti diperbaiki (jangan hanya pendidikan yang cuma mengejar prestasi akademik dengan kelas-kelas akselerasi yang hanya menghasilkan orang-orang pintar tetapi egois dan tidak memiliki kemahiran hidup.). Pendidikan yang berkualitas untuk membentuk manusia yang utuh mestinya bisa diakses siapa pun warga negara ini, tak peduli dia anak tukang cuci, anak buruh gendong, anak buruh tani,….pokoknya semua anak di negeri ini harus mendapat akses pendidikan yang berkualitas supaya menjadi manusia utuh yang tidak hanya pintar matematika dan sains tetapi juga berbudaya santun dan berbudi luhur.

Education is the great engine of personal development. It is through education that the daughter of a peasant can become a doctor; that the son of a mineworker can become head of the mine; that the child of farm workers can become the President of a great nation.” (Nelson Mandela, cited from Schlumberger Foundation Grant Guidelines Spotlight.)

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s