P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

AIR, SANITASI DAN MDG’s

Leave a comment

oleh : Purwanti Sri Pudyastuti
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Alumnus Water, Engineering and Development Centre (WEDC), Loughborough University, Inggris.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencanangkan tahun 2008 sebagai tahun sanitasi internasional. Sanitasi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai upaya manusia untuk mengelola limbah yang dihasilkannya, yaitu air kencing dan faeces. Pengelolaan limbah manusia ini biasanya dilakukan dengan membangun fasilitas seperti kamar mandi dan toilet. Selanjutnya seiring dengan perkembangan jaman, sanitasi tidak hanya terkait dengan limbah yang dihasilkan oleh manusia namun juga mencakup sanitasi lingkungan yang terkait dengan pengelolaan limbah rumah tangga dan limbah dari aktivitas yang lain seperti aktivitas industri dan pertanian. Ilmu tentang sanitasi mengajarkan bagaimana manusia mengelola limbah yang dihasilkannya sehingga tidak memberikan dampak merugikan bagi manusia sendiri dan lingkungannya. Seiring dengan makin bertambahnya jumlah penduduk, maka limbah yang dihasilkan oleh manusia juga makin meningkat, dan jika tidak dikelola dengan baik akan memberikan dampak merugikan terutama terkait dengan permasalahan kesehatan. Baik sanitasi pribadi maupun lingkungan, saat ini semestinya menjadi perhatian semua pihak, karena limbah yang tidak dikelola dengan baik akan memberikan dampak merugikan tidak hanya terhadap manusia tetapi juga terhadap lingkungan, antara lain menyebabkan tercemarnya sumber air sebagai sumber kehidupan.

Air dan Sanitasi
WHO (2005) melaporkan bahwa sekitar 4 – 8% penyakit yang berjangkit di Afrika dan Asia Tenggara disebabkan oleh buruknya kualitas air dan sanitasi serta kurangnya kebersihan. Selain itu, lebih dari 99,8 % kematian (90% diantaranya adalah anak-anak) di negara berkembang juga disebabkan oleh buruknya kualitas air, sanitasi, dan kebersihan. Sehingga dapat dikatakan bahwa air, sanitasi dan kebersihan memberikan dampak pada kesehatan. Beberapa penyakit yang termasuk water-related diseases seperti diare yang menjadi penyebab utama kematian anak-anak di negara berkembang sebenarnya dapat dicegah dan dikendalikan dengan meningkatkan akses terhadap air bersih dan sanitasi, serta meningkatkan kebersihan pribadi dan lingkungan. Hal ini dapat dipahami karena bakteri penyebab diare yang dikeluarkan bersama faeces dapat menyebar melalui jari tangan, air, tanah, lalat, dan makanan.
WHO (2005) melaporkan bahwa di dunia ini ada 2 miliar penduduk yang tidak mempunyai akses terhadap fasilitas sanitasi pribadi, sehingga mereka tidak dapat mengelola limbah yang dikeluarkan tubuh dengan baik. Ketika akses terhadap fasilitas sanitasi dan air bersih tidak tersedia, maka bakteri-bakteri penyebab penyakit menular akan menyebar dengan mudah. Selain itu buruknya sanitasi lingkungan yang menyebabkan sumber air tanah tercemar oleh bakteri seperti E. Coli juga meningkatkan resiko berjangkitnya penyakit. Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa kandungan bakteri E.Coli dalam sumber air tanah di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya sudah sangat mengkhawatirkan. Jika mengacu pada standar kualitas air minum yang dikeluarkan oleh WHO dan Departemen Kesehatan yang menyatakan bahwa kandungan E.Coli dalam 100 ml air seharusnya adalah nol, maka air tanah yang diteliti di daerah tersebut tidak memenuhi standar kualitas yang diijinkan.
Di Indonesia, terutama di pemukiman-pemukiman kumuh dan daerah-daerah terpencil, sanitasi sepertinya masih terabaikan karena masih banyak penduduk yang membuang air kencing dan faeces di tempat-tempat terbuka seperti kebun dan sungai. Bahkan di tempat-tempat umum seperti sekolah dan rumah sakit kondisi sanitasi dan ketersediaan air bersih juga sangat menyedihkan. Permasalahan terkait dengan limbah saat ini semakin kompleks di Indonesia, karena tidak hanya limbah yang diproduksi oleh tubuh manusia yang menyebabkan masalah, tetapi limbah padat dan cair sebagai hasil dari aktivitas industri dan rumah tangga telah menjadi sumber masalah yang menyebabkan tercemarnya sumber-sumber air, baik air permukaan maupun air bawah permukaan. Saat ini kita semakin sulit menemukan sungai-sungai yang mengalir dengan air yang jernih, tetapi semakin mudah menemukan sungai-sungai yang penuh dengan sampah dan berwarna gelap akibat adanya limbah cair dari industri yang dibuang ke sungai tanpa treatment yang memadai.

Sanitasi dan MDG’s
Begitu pentingnya ketersediaan air bersih dan sanitasi, sehingga beberapa tujuan dan target dalam MDG’s yang disepakati oleh seluruh anggota PBB berhubungan dengan kedua hal tersebut. Menurut WHO (2007), mengurangi angka kematian anak-anak yang merupakan tujuan ke-empat dari MDG’s dapat terpenuhi jika ada peningkatan akses terhadap sanitasi dan sumber air bersih, serta peningkatan perilaku hidup bersih. Usaha ini diyakini dapat mengurangi berjangkitnya penyakit diare sebagai pembunuh anak-anak nomor satu di dunia. Selain itu, tujuan ke-tujuh dari MDG’s, yaitu menjamin keberlanjutan lingkungan dapat dicapai antara lain dengan mengelola limbah dengan baik sehingga mengurangi kontaminasi terhadap sumber air dan lingkungan. Jika kontaminasi terhadap sumber air dan lingkungan berkurang, maka akan memberikan kontribusi terhadap konservasi lingkungan.
Sebenarnya adalah tugas pemerintah untuk memenuhi target-target tersebut. Namun untuk mendukung tercapainya target tersebut, tentu saja keterlibatan masyarakat luas sangat diharapkan. Memang bukan perkara mudah untuk menyadarkan masyarakat agar mengelola limbahnya dengan baik sehingga tidak mencemari lingkungan. Mendidik masyarakat untuk mengelola limbahnya dengan baik di negeri di mana akses pendidikan masih mahal bagi sebagian besar orang memang merupakan tantangan besar bagi kita. Cara yang paling mudah adalah mendidik mulai dari lingkaran terdekat kita, yaitu mendidik keluarga kita sendiri untuk menjaga kebersihan dan mengelola limbah dengan baik. Jika semua keluarga di Indonesia mendidik keluarganya sendiri untuk menjaga kebersihan dan mengelola limbahnya, maka target untuk mengurangi angka kematian anak dan menjamin keberlanjutan lingkungan sangat mungkin untuk diwujudkan.

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s