P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

BANJIR DAN KEMITRAAN HULU HILIR

Leave a comment

oleh : Purwanti Sri Pudyastuti
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, beberapa wilayah kota Solo dilanda banjir lebih dari satu kali akibat meluapnya sungai Bengawan Solo. Meluapnya sungai Bengawan Solo yang juga menyebabkan banjir di beberapa kabupaten di Jawa Timur diberitakan disebabkan oleh besarnya intensitas hujan yang melanda wilayah daerah aliran sungai Bengawan Solo. Besarnya debit aliran akibat hujan yang terjadi tak lagi mampu ditampung oleh sungai terpanjang di pulau Jawa tersebut. Dilihat dari sudut pandang pengelolaan banjir terpadu seperti dilaporkan oleh Associated Programme on Flood Management (APFM, 2006), pemicu terjadinya banjir tidak hanya faktor intensitas hujan, tetapi ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab banjir, antara lain faktor perubahan iklim, perubahan tataguna lahan, dan faktor sosial-ekonomi yang memberikan kontribusi pada kerusakan lingkungan. Dampak merugikan akibat meluapnya sungai Bengawan Solo tak hanya dirasakan oleh masyarakat di bagian hulu sungai, namun juga dirasakan masyarakat di hilir.

Saling Keterkaitan Antara Hulu dan Hilir
Dalam suatu daerah aliran sungai (DAS), secara alamiah air pada semua badan air yang ada di DAS akan mengalir dari arah hulu menuju ke hilir. Oleh karena itu, setiap aktivitas yang berinteraksi dengan air dan tanah di daerah hulu akan memberikan dampak pada daerah hilir. Sebagai contoh, penebangan hutan secara liar yang tidak terkendali di hulu suatu DAS akan memberikan dampak pada daerah hilir, antara lain meningkatnya permasalahan banjir dan tanah longsor pada musim hujan di daerah hilir. Cara pengolahan tanah yang tidak menerapkan aspek konservasi di daerah hulu juga akan memberikan dampak pada daerah hilir, berupa meningkatnya laju erosi dan sedimentasi di sungai, waduk dan jaringan irigasi di daerah hilir. Contoh dampak merugikan akibat erosi dan sedimentasi adalah berkurangnya kemampuan waduk Wonogiri untuk menampung volume air sesuai yang direncanakan, sehingga fungsi waduk pun tidak optimal seperti yang diharapkan.
Di sisi lain, daerah hilir seringkali juga diuntungkan dengan adanya infrastruktur yang dibangun dengan pengorbanan masyarakat daerah hulu, contohnya dengan dibangunnya waduk di daerah hulu. Seringkali daerah hilir lebih banyak mendapatkan keuntungan dari suatu waduk dengan adanya jaringan irigasi, pelayanan PDAM dan PLTA yang memanfaatkan air dari waduk. Selain itu, dengan adanya waduk di hulu maka potensi banjir di hilir juga menjadi berkurang. Oleh karena itu, adanya keterkaitan antara sumberdaya (baik alam maupun manusia) di daerah hulu dan daerah hilir tidak dapat diabaikan dalam sistem pengelolaan DAS secara terpadu.

Hidro-solidaritas Hulu-Hilir
Adanya keterkaitan antara kondisi daerah hulu dan hilir suatu DAS menjadikan alasan mengapa suatu DAS harus dikelola bersama oleh masyarakat, instansi, dan stakeholder terkait, baik yang berlokasi di hulu maupun di hilir DAS. Solidaritas antara hulu dan hilir diperlukan dalam pengelolaan DAS secara terpadu (hidro-solidaritas) karena kondisi di hulu memberikan pengaruh terhadap kondisi di hilir. Jika daerah hulu DAS dikelola dengan baik dan dijaga kelestariannya, maka semua akan mendapatkan keuntungan, baik yang di hulu maupun hilir. Kondisi hutan yang terjaga kelestariannya di hulu DAS akan menguntungkan kita, antara lain terjaganya kelestarian keanekaragaman hayati yang akan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat di sekitar hutan, melestarikan keberadaan greenwater (kelembaban tanah yang dimanfaatkan oleh tanaman dan dilepaskan kembali sebagai uap air dalam proses evapotranspirasi, Swedish Water House, 2005) yang merupakan aspek penting dalam siklus hidrologi, dan mengurangi potensi banjir dan tanah longsor.
Upaya pengelolaan DAS dapat dilakukan dengan menerapkan program kemitraan hulu-hilir, diantaranya dengan program incentive-based mechanism yang melibatkan masyarakat daerah hulu, instansi pemerintah, perkumpulan petani di hilir, perusahaan seperti PLN dan PDAM, atau LSM. Biasanya masyarakat di daerah hulu adalah golongan masyarakat miskin yang mengandalkan sumberdaya alam di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selain dari kegiatan bercocok tanam. Masyarakat hulu dapat dimotivasi untuk mengelola lingkungan dan sumberdaya di sekitarnya baik sumberdaya hutan, sumberdaya air dan tanah dengan baik sehingga terjaga kelestariannya dan menguntungkan semua pihak. Motivasi yang diberikan dapat berupa pemberian sejumlah dana kepada masyarakat hulu untuk memperbaiki tata guna lahan dan menjaga kelestarian hutan, sungai dan ekosistem di sekitarnya. Sumber dana dapat berasal dari pemerintah, atau perusahaan seperti PLN dan PDAM, atau bahkan dari industri sebagai realisasi dari CSR (Corporate Social Responsibility). Bukankah jika kondisi DAS rusak lalu muncul masalah banjir maka semuanya akan menanggung kerugian? Perguruan tinggi juga dapat dilibatkan dalam program kemitraan hulu-hilir untuk mensosialisasikan manfaat dari kelestarian DAS. Selain itu, program kemitraan hulu-hilir ini juga harus didukung dengan adanya penegakan hukum tanpa pandang bulu. Untuk kondisi DAS Bengawan Solo yang merupakan DAS lintas-wilayah (transboundary river basin), maka koordinasi antar pemerintah daerah terkait juga diperlukan untuk mendukung suksesnya pengelolaan DAS terpadu yang komprehensif.
Sebenarnya ada beberapa contoh pengelolaan DAS lintas-wilayah di negara lain yang menerapkan model incentive-based mechanism yang dapat dijadikan referensi dalam menetapkan kebijakan pengelolaan DAS lintas-wilayah, misalnya pengelolaan DAS Mekong yang dikelola bersama oleh Thailand, Vietnam dan Myanmar. Dalam skala global, model incentive-based mechanism untuk pengelolaan DAS telah diterapkan di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Costa Rica, Ekuador, Perancis, Columbia, Australia, Cina, dan Philipina (Koch-Weser, 2002). Untuk memperbaiki kondisi DAS Bengawan Solo yang dilaporkan sudah mengalami kerusakan memang membutuhkan biaya dan waktu, dan mungkin dalam jangka panjang baru dirasakan manfaatnya. Namun jika tidak dimulai sekarang juga, maka malapetaka dan bencana akibat kerusakan DAS Bengawan Solo akan selalu mengancam kita dan generasi yang akan datang.

Catatan : Tulisan ini dimuat di Harian Solo Pos tanggal 12 Maret 2008

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s