P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

Islam dan Pengelolaan Sumberdaya Air (II)

Leave a comment

Dalam buku berjudul Water Management in Islam yang diedit oleh Faruqui dkk (2001) yang merupakan ringkasan dari beberapa studi yang dilakukan para ahli dari bermacam disiplin ilmu di negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara, prinsip dasar pengelolaan sumberdaya air berdasarkan ajaran Islam secara garis besar dibagi menjadi 3, yaitu prinsip air dianggap sebagai benda sosial; prinsip pengelolaan kebutuhan air; dan prinsip pengelolaan sumberdaya air terpadu.

A. Air Sebagai Benda Sosial

Berdasarkan prinsip ini yang berpedoman pada QS. An-Nahl : 65 dan QS. Al-Anbiyaa : 30, maka air merupakan benda sosial sebagai anugerah dari Allah yang sangat penting untuk keberlanjutan makhluk hidup di dunia. Sumber air adalah milik masyarakat secara keseluruhan, sehingga sumber air seperti sungai, danau, dan aquifer tidak bisa dimiliki secara individu atau diprivatisasi. Isu privatisasi sumber air ini sampai sekarang masih ramai diperbincangkan oleh para pemerhati masalah sumberdaya air di Indonesia. Berdasarkan prinsip ini juga ditegaskan bahwa prioritas utama penggunaan air adalah untuk air minum dengan kualitas dan kuantitas yang tepat untuk manusia, dan adalah hak asasi bagi setiap manusia untuk terpenuhi kebutuhannya akan air minum. Prioritas berikutnya untuk dipenuhi kebutuhan airnya adalah binatang peliharaan dan kebutuhan irigasi.

Selain itu, lingkungan beserta isinya (termasuk hewan dan tumbuhan) mempunyai hak asasi untuk menikmati air bersih, sehingga manusia sebagai khalifah di bumi ini wajib melindungi lingkungan dan ekosistem dengan berusaha untuk mengurangi polusi sumber air dan tidak mengotori sumber air. Oleh karena itu, dalam salah satu hadist diriwayatkan bahwa Rasulullah Muhammad SAW melarang umatnya buang air kecil di sumber air yang tidak mengalir (Muslim : 553).

Ketika suatu sumber air, misalnya sungai, danau atau mata air telah terkontaminasi oleh polutan dan sampah sehingga kualitasnya tidak memenuhi syarat lagi untuk kebutuhan manusia, hewan dan tanaman, maka sesungguhnya yang paling menderita adalah manusia. Salah satu contoh adalah Sungai Bengawan Solo. Berdasarkan laporan dari Ekspedisi Bengawan Solo (Kompas, 2008), sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut adalah tempat sampah raksasa untuk membuang beraneka macam limbah mulai dari sampah padat, limbah berbagai peternakan termasuk peternakan babi, limbah industri, dan limbah rumah tangga. Salah satu dampaknya adalah berkurangnya species ikan di aliran Sungai Bengawan Solo. Penduduk yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo yang pada masa lalu mudah mencari ikan untuk kebutuhan hidup sehari-hari, sekarang mereka kesulitan untuk mendapatkan ikan, dan akhirnya mereka beralih menjadi penambang pasir di sungai tersebut untuk mendapatkan nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kondisi ini makin memperparah kerusakan Sungai Bengawan Solo. Sungai adalah salah satu ciptaan Allah, dan ketika sebuah sungai telah mengalami kerusakan sehingga lingkungan dan ekosistemnya tidak dalam kondisi seimbang seperti saat Allah ciptakan, maka mustahil bagi manusia untuk membuatnya kembali seperti semula dalam waktu singkat. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa manusia dilarang membuat kerusakan di muka bumi (QS. Al Baqarah : 11). Membuat kerusakan yang dimaksud di sini menurut para ahli dapat ditafsirkan termasuk semua kegiatan yang merusak sumberdaya alam termasuk sumber air.

Berdasarkan prinsip ini juga ditegaskan bahwa sumberdaya air harus dikelola dan digunakan secara sustainable. Manusia generasi saat ini wajib memanfaatkan sumberdaya air untuk kebutuhannya sebijak mungkin tanpa mengabaikan kebutuhan air generasi masa depan. Selain itu, pengelolaan sumberdaya air yang adil dan berkelanjutan sangat tergantung pada nilai-nilai universal seperti keadilan, kesamaan hak, dan kepedulian pada manusia dan makhluk hidup yang lain. Adalah tugas kita bersama untuk menjaga kelestarian sumber air; mencegah sumber air agar tidak terkontaminasi polutan yang berbahaya bagi manusia, hewan dan tanaman; dan memanfaatkan sumber air secara bijaksana. Terkait dengan pemanfaatan sumber air secara bijaksana ini, Rasulullah Muhammad SAW melarang umatnya untuk berlebih-lebihan dalam menggunakan air meskipun dalam kondisi ketersediaan air berlimpah, seperti yang diungkapkan dalam salah satu hadist : “Do not waste water even if performing ablution on the bank of a fast-flowing (large) river.” (Al Tirmidhi : 427). Rasulullah Muhammad SAW pada masa hidupnya tinggal dan menetap di tanah Arab yang memiliki sumber air segar yang sangat terbatas, sehingga beliau pun memberi contoh bagaimana penggunaan air yang rasional untuk wudhu dan mandi pada saat itu seperti diriwayatkan oleh salah satu hadist : “Rasulullah Muhammad SAW biasa melakukan wudhu dengan menggunakan air sebanyak 2/3 liter dan mandi dengan menggunakan air sebanyak 2 – 3.5 liter.” (Al Bukhari : 1.200)

Umat Islam mestinya bisa memberi contoh dalam memperlakukan dan memanfaatkan sumber air sesuai dengan yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan Hadith. Jika negara-negara maju yang sekuler dan banyak penduduknya atheis bisa berlaku bijak terhadap sumber air yang mereka miliki karena rasionalitas, maka seharusnya umat Islam yang dikaruniai iman bisa lebih bijak dalam memperlakukan sumber air dengan menggabungkan rasionalitas dan iman.

Ke-dua prinsip berikutnya Inshaallah akan saya lanjutkan pada note berikutnya… @_@

Purwanti Sri Pudyastuti
“Ilmu Allah sangat luas, dan mungkin hanya sebiji atom yang bisa aku pahami, itu pun aku terima melalui banyak orang mulai dari orang tuaku, guru2ku TK, SD, SMP, SMA, dan dosen2ku, serta buku-buku dan internet-based references. Maka tak pantas untukku untuk sombong di muka bumi.”

Sumber :
Al Qur’an [Online]. Available at: http://www.al-islam.org/quran .
Ekspedisi Bengawan Solo, 2008, Penerbit Kompas, Jakarta.
Faruqui, N. I., dkk, 2001, Water Management in Islam.
Hadith [online]. Available at : http://www.usc.edu/schools/college/crcc/engagement/resources/texts/muslim/hadith/

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s