P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

Islam dan Pengelolaan Sumberdaya Air (III)

Leave a comment

Pada note sebelumnya telah kita bahas bahwa prinsip dasar pengelolaan sumberdaya air berdasarkan ajaran Islam secara garis besar dibagi menjadi 3, yaitu prinsip air dianggap sebagai benda sosial; prinsip pengelolaan kebutuhan air; dan prinsip pengelolaan sumberdaya air terpadu. Selanjutnya pada note ini akan kita bahas prinsip yang kedua.

B. Pengelolaan Kebutuhan Air

Pengelolaan kebutuhan air dapat dilakukan dengan menggabungkan pendekatan non-ekonomi dan ekonomi. Pendekatan non-ekonomi mencakup konservasi sumberdaya air dan penggunaan kembali air limbah. Beberapa ahli ada juga yang berpendapat bahwa family planning (di Indonesia populer dengan sebutan Keluarga Berencana / KB) dapat juga dimasukkan sebagai salah satu aspek dalam pendekatan non-ekonomi untuk pengelolaan kebutuhan air(tentang family planning ini berdasarkan Islam perlu kajian tersendiri, dan saat ini saya belum sanggup untuk mengkaji-nya…). Sedangkan pendekatan ekonomi dalam pengelolaan kebutuhan air mencakup penetapan tarif atas penggunaan air dan pelayanan pengiriman / distribusi kebutuhan air.

Konservasi sumberdaya air

Dalam note sebelumnya telah disebutkan bahwa Allah menganugerahkan air di muka bumi ini dengan ukuran tertentu, sehingga manusia harus mengelolanya dengan baik. Kebutuhan akan air semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan perkembangan pembangunan, jadi untuk keberlanjutan kehidupan, sumber air harus dikelola sebaik-baiknya. Rasulullah telah memberi contoh untuk tidak menggunakan air secara berlebih-lebihan (menghemat air) walaupun saat ketersediaan air berlimpah.

Selain melakukan gerakan hemat air, konservasi sumberdaya air dapat mencakup penampungan air hujan; menjaga kelestarian mata air, sungai, dan danau; serta melindungi sumber air bawah tanah. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa manusia dilarang melakukan kerusakan di muka bumi, termasuk dilarang merusak sumberdaya alam termasuk sumber air. Selain itu, Islam sangat menekankan harmoni antara kesucian spiritual dan kesucian fisik. Kesucian fisik dicapai dengan melakukan wudhu dan ghusl yang memerlukan air bersih (air yang tidak berasa, tidak berwarna, dan tidak berbau). Oleh karena itu Rasulullah melarang umatnya untuk mencemari sumber air seperti diriwayatkan dalam hadist yang sudah kita bahas pada note sebelumnya, karena air sangat dibutuhkan oleh umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Di beberapa negara maju, industri-industri mengolah limbah cairnya terlebih dulu sampai memenuhi standard tertentu yang diijinkan sebelum membuangnya ke saluran menuju sungai agar limbah yang mereka buang ke sungai tidak mengotori dan mencemari sungai serta merusak ekosistem sungai. Pemanfaatan sumber air bawah tanah pun diatur ketat dengan undang-undang. Bagaimana dengan di Indonesia?

Sumber air atmosfer seperti air hujan adalah anugerah Allah untuk manusia, oleh karena itu manusia juga harus mengelolanya dengan baik. Di daerah-daerah yang mempunyai sumber air berlimpah air hujan seringkali terabaikan. Penampungan air hujan untuk kebutuhan air sehari-hari biasanya banyak dipraktekkan di daerah-daerah dengan sumber air terbatas, seperti Gunung Kidul. Di beberapa negara seperti Jepang, Korea, Australia, USA, dan India teknik menampung air hujan juga diterapkan, termasuk untuk kebutuhan penggelontoran toilet. Bagaimana dengan kita yang tidak pernah mengalami kesulitan air? Mungkin kita sampai saat ini masih mengabaikan bahwa air yang kita pakai untuk menggelontor toilet, mencuci sepeda motor atau mobil ternyata sama dengan air yang kita pakai untuk memasak dan bersuci.

Penggunaan kembali air limbah

Menurut para ahli seperti diringkas oleh Faruqui (2001), penggunaan kembali air limbah diijinkan dalam ajaran Islam, namun air limbah tersebut harus diolah terlebih dahulu sehingga memenuhi syarat kesucian dan kesehatan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Sebagai contoh, air limbah rumah tangga dapat diolah dan digunakan kembali untuk kebutuhan menyirami tanaman / irigasi. Praktek penggunaan kembali air limbah rumah tangga untuk irigasi telah dilakukan oleh masyarakat Yunani Kuno ribuan tahun yang lalu.

Penggunaan kembali air limbah merupakan salah satu komponen penting dalam strategi pengelolaan kebutuhan air, karena praktek ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan sumber air bersih, agar air bersih lebih diutamakan untuk prioritas utama pemenuhan kebutuhan air. Selain melestarikan sumber air bersih, keuntungan lain penggunaan kembali air limbah untuk menyirami tanaman / irigasi adalah mengurangi efek buruk terhadap lingkungan dan mengurangi penggunaan pupuk kimia. Tentu saja untuk menggunakan kembali air limbah untuk irigasi harus mempertimbangkan jenis dan karakteristik tumbuhan yang dibudidayakan. Di Saudi Arabia pada tahun 1995, 15 % air limbah yang diolah kembali digunakan untuk mengairi perkebunan kurma dan alfalfa. Penggunaan kembali air limbah untuk pemenuhan kebutuhan irigasi juga dilakukan di Jordania dan Kuwait.

Air limbah juga dapat digunakan kembali untuk menggelontor toilet. Sebagai contoh, air bekas wudhu di masjid di Mekah dan Medina digunakan kembali untuk menggelontor toilet, sehingga menghemat penggunaan air hasil penyulingan air laut yang biayanya sangat mahal.

Penetapan tariff penggunaan air

Penetapan tarif atas penggunaan air diijinkan dalam Islam, karena untuk memperoleh air seringkali dibutuhkan biaya, misalnya biaya listrik untuk memompa air, biaya water treatment, biaya penyimpanan dan penampungan, biaya pemeliharaan dan biaya pendistribusian. Kebanyakan penduduk, terutama di pedesaan masih berfikir bahwa water is God’s gift, so it should be free. Untuk memelihara mata air, sungai, danau dan sumur perlu biaya. Untuk mendapatkan air dari sumur pun perlu biaya. Sehingga penetapan tarif atas penggunaan air sebenarnya wajar, asal penetapannya masuk akal dan adil.

Pelayanan distribusi air

Pelayanan untuk pengiriman / distribusi air dalam Islam diijinkan dilakukan oleh swasta, namun pemerintah berkewajiban untuk menjamin bahwa tarif dan service yang diberikan adil untuk semua masyarakat tanpa terkecuali. Bagaimana dengan PDAM di Indonesia, apakah tarif dan service-nya sudah adil?

Prinsip yang ketiga insyaallah akan saya lanjutkan dalam note berikutnya, silakan jika ingin menambahkan masukan atau informasi.

Purwanti Sri Pudyastuti
“Ilmu Allah sangat luas, dan mungkin hanya sebiji atom yang bisa aku pahami, itu pun aku terima melalui banyak orang mulai dari orang tuaku, guru2ku TK, SD, SMP, SMA, dan dosen2ku, serta buku-buku dan internet-based references. Maka tak pantas untukku untuk sombong di muka bumi.”

Sumber :
Al Qur’an [Online]. Available at: http://www.al-islam.org/quran .
Faruqui, N. I., dkk, 2001, Water Management in Islam.
Hadith [online]. Available at : http://www.usc.edu/schools/college/crcc/engagement/resources/texts/muslim/hadith/

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s