P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

Urban Heat Island

2 Comments

Sekitar 2 bulan yang lalu saya disarankan oleh supervisor saya yang seorang profesor dalam bidang hidrology dan climate change untuk mengikuti course yang berjudul Climate Change : Vulnerability, Impact, and Adaptation. Dari sekian banyak materi yang diberikan oleh beberapa instructors, ada satu materi yang menurut saya sangat menarik karena saya belum pernah mempelajarinya secara detail sebelumnya, yaitu tentang Urban Heat Island (UHI).

Tentang definisi UHI, kita bisa mencarinya di internet, yang artinya secara ringkas kira-kira adalah kecenderungan di mana sebuah kota temperaturnya lebih hangat atau lebih panas dibanding rural area di sekitarnya, dengan perbedaan temperatur pada malam hari lebih tinggi daripada siang hari. UHI ini disebabkan oleh panas matahari yang disimpan oleh “impervious engineered surfaces” (bangunan dengan bahan beton, aspal, atap berwarna gelap, dll) pada siang hari, dan panas tersebut dilepaskan ke atmosfer pada malam hari. Digunakan istilah “heat island” karena udara perkotaan yang lebih panas terletak di antara lautan udara pedesaan yang lebih dingin.

Fenomena UHI ini sebenarnya sudah diinvestigasi oleh Luke Howard (seorang British manufacturing chemist dan amateur meteorologist, Wikipedia) pada tahun 1810-an, yang merupakan akibat dari kurangnya vegetasi sebagai penutup lahan dan rendahnya kelembaban tanah. Sesuai dengan fitrahnya, tanaman pada siang hari menyerap panas matahari untuk proses fotosintesis kemudian menguapkannya kembali ke atmosfer dalam proses evapotranspirasi yang mempunyai efek pendinginan. Proses evapotranspirasi ini ibarat manusia yang mengeluarkan keringat. Berdasarkan penelitian di USA, tanaman setinggi 30 kaki akan menghasilkan “keringat” melalui evapotranspirasi sebanyak 40 gallon per hari. Mekanisme yang memberikan efek pendinginan ini akan berubah jika lahan yang berisi tumbuhan termodifikasi menjadi taman beton dan aspal alias perumahan dan jalan raya atau infrastruktur kedap air lainnya. Taman beton dan aspal ini akan menyerap panas dan menahannya, sehingga akan membuat temperatur di sekelilingnya tetap panas karena permukaan lahan menjadi kedap air dan kering.

Faktor penyebab UHI lainnya adalah limbah panas yang dihasilkan oleh penggunaan energi, baik dari kendaraan bermotor, industri, dan penggunaan AC. Ketika populasi kota semakin bertambah akibat urbanisasi, maka kebutuhan akan perumahan semakin meningkat. Dan perubahan lahan terbuka hijau menjadi pemukiman pun semakin meningkat, penggunaan energi juga semakin meningkat. Demikian seterusnya, sehingga semakin banyak panas yang diserap oleh perkotaan.

Penyebab lain dari UHI adalah akibat dari efek geometrik. Gedung-gedung tinggi yang biasanya banyak dijumpai di perkotaan menyediakan permukaan ganda untuk memantulkan dan menyerap sinar matahari, sehingga meningkatkan efisiensi pemanasan kota. Gedung-gedung yang tinggi juga menghalangi angin yang sebenarnya membantu proses pendinginan.

Apakah dampak merugikan dari UHI? Dampak merugikannya antara lain adalah meningkatnya konsumsi energi, meningkatnya emisi gas rumah kaca, meningkatnya masalah kesehatan, dan memberikan masalah baru di sektor sumberdaya air.

Di kota besar seperti London, fenomena UHI menjadi perhatian serius bagi pemerintah lokal, karena memberikan dampak merugikan pada sektor lingkungan, sosial, dan ekonomi, terutama pada saat musim panas. Beberapa walikota London, setahu saya Ken Livingstone dan Boris Johnson (mungkin walikota2 sebelumnya juga sudah memikirkannya), sangat serius untuk mengantisipasi fenomena UHI ini. Strategi yang mereka rumuskan termasuk bagaimana merancang sistem cooling yang tepat untuk London Underground agar emisi karbon-nya seminimal mungkin, bagaimana menyediakan renewable energi dari sumber yang se-lokal mungkin, bagaimana mengatasi meningkatnya kebutuhan air ketika musim panas, bagaimana NHS mengatasi masalah kesehatan terkait dengan UHI, dll. Mereka (para walikota tsb) pun dengan senang hati mengendarai sepeda ketika ke kantor. Strategi lain adalah menerapkan sistem cool roofs, green roofs, cool pavements, dan menggalakkan penanaman pohon. Selain itu, untuk pengembangan kota, pembangunan infrastruktur baru harus mengoptimalkan faktor “sky view” dan mempertimbangkan “street orientation”. Strategi lainnya adalah mengembangkan “decision support tool” untuk para perencana, arsitek dan ahli tata kota untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan intervensi “anti-UHI”.

Jika membandingkan kondisi fisik kota London dengan kota Jakarta, Surabaya atau Yogyakarta, timbul pertanyaan buat saya : London yang mempunyai banyak taman yang luas, gedung2nya sangat sedikit menggunakan AC dibanding Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta saja sejak beberapa tahun lalu merasa menderita akibat “UHI”, bagaimana dengan Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta yang sudah telanjur semakin padat dengan taman beton dan sangat berisik dengan kendaraan bermotor?

Salam dari tepi sungai Tyne
(sambil membayangkan rumah2 joglo yang sejuk di desa2 pada masa lalu)

Catatan : Gambar dalam note ini adalah sketsa dari UHI yang saya download dari http://www.london.gov.uk/lccp/images/urban.gif.

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

2 thoughts on “Urban Heat Island

  1. i’m junjung purba from medan . and calon faculty antropology university of airlangga heheh . in my opinion, better reduce the number of four-wheeled vehicles and two-wheeler to get cool pavements, and cool roofs. thereby reducing excessive fumes. and reduce construction malls in Indonesia this. because for me that’s enough shopping malls in Indonesia is better to build a green world around us. thank you🙂

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s