P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

Rawa, Antara Penyimpan Karbon dan Penghasil Methane

Leave a comment

Menurut Wikipedia, rawa atau wetland adalah suatu lahan di mana kondisi tanahnya jenuh air, baik jenuh secara permanen atau jenuh secara musiman.  Lahan di daerah rawa kaya dengan kandungan bahan organik. Air yang berada di rawa bisa berupa air asin, air segar, atau air payau. Rawa biasanya mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi dibanding ekosistem yang lain, dengan ditumbuhi beragam tanaman seperti bakau, teratai dan cattails, serta menjadi habitat beberapa jenis hewan seperti amphibi, reptile, serangga, burung, dan mamalia. Di beberapa negara seperti Malaysia, Inggris, Afrika Selatan dan Amerika Serikat, rawa merupakan obyek konservasi untuk melestarikan keanekaragaman hayati.

Berdasarkan beberapa sumber, rawa mempunyai beberapa manfaat antara lain : memperlambat aliran air banjir (karena rawa biasanya mempunyai areal yang luas dengan kemiringan sangat kecil, sehingga kecepatan aliran air juga kecil), melindungi terhadap erosi, memperbaiki kualitas air, tempat rekreasi dan belajar, keanekaragaman hayati, menyeimbangkan iklim, mengisi kembali cekungan air tanah, dan menghasilkan produk yang bermanfaat untuk manusia seperti kayu, ikan, beras, dan pakan ternak. Selain itu, rawa juga disebut sebagai “kidneys of the landscape” karena dapat menyaring material-material pencemar air seperti bahan kimia pada pupuk dan detergent.  Selain itu, rawa diyakini dapat menyerap karbon.

Indonesia, sebelum maraknya pembukaan areal perkebunan, terutama di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua kaya dengan daerah rawa. Namun luasan rawa di Indonesia saat ini makin berkurang karena telah beralih fungsi. ScienceDaily melaporkan bahwa rawa, terutama rawa di negara tropis mempunyai kemampuan menyerap karbon 80 % lebih banyak jika dibandingkan dengan rawa di negara-negara yang bersuhu sedang. Hasil penelitian Ohio State University yang mengambil sampel tanah dari rawa tropis di Costa Rica menunjukkan bahwa rawa tropis dapat memperangkap karbon sebesar 1 ton per acre per tahun (1 acre = 0.405 hektare), sedangkan rawa sub-tropis hanya menyerap 0.6 ton karbon per acre per tahun. Terkait dengan upaya seluruh negara di dunia untuk mengurangi pemanasan global, maka usaha untuk melestarikan rawa giat dilakukan, karena rawa (selain hutan) adalah salah satu media untuk memperangkap karbon yang dituding sebagai sumber utama pemanasan global.

Pada satu sisi, rawa memang terbukti dapat memperangkap karbon. Namun di sisi yang lain, ternyata rawa adalah sumber alami dari gas methane, dan mikroorganisme yang berperan dalam proses pembusukan bahan organik di rawa menyebabkan rawa melepaskan emisi gas methane ke atmosfer. Menurut The Ecologist, proporsi gas methane (1.77 ppm – part per million) di atmosfer sebenarnya cukup kecil jika dibandingkan dengan proporsi gas karbondioksida (380 ppm), namun gas methane memberi kontribusi cukup signifikan terhadap efek rumah kaca. Kemampuan molekul gas methane untuk menyerap energy panas sinar inframerah adalah sebanyak 20 – 30 kali lipat jika dibandingkan dengan kemampuan molekul gas karbondioksida. Banyak ahli di dunia saat ini khawatir dengan emisi gas methane, karena sebagian besar upaya mengurangi pemanasan global hanya fokus kepada pengurangan emisi karbon.

Emisi gas methane dapat berasal dari sumber alami seperti rawa dan lautan, serta dari sumber anthropogenic seperti pertambangan batubara, pengolahan limbah, pembakaran biomass, dan industri pertanian. Yang menjadi masalah adalah, ternyata proporsi terbesar dari emisi gas methane berasal dari sumber alami, yaitu dari rawa, yang melepaskan emisi gas methane sekitar 30 % dari total emisi gas methane di dunia. Dan yang berperan dalam melepaskan emisi gas methane di rawa adalah mikroorganisme yang membusukkan material organic secara anaerobic (tanpa oksigen).

Dan inilah isu terbesar di dunia wetlands science saat ini, yaitu bagaimana membuat keseimbangan antara penyerapan karbon dan pengurangan emisi gas methane dari rawa.

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s