P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

Gas Rumah Kaca (I)

1 Comment

Mungkin sebagian besar dari kita pernah atau bahkan sering mendengar istilah gas rumah kaca. Dalam isu pemanasan global dan perubahan iklim, gas rumah kaca sering disebut-sebut, karena fenomena pemanasan global dan perubahan iklim terkait dengan gas rumah kaca.

Keberadaan gas rumah kaca di atmosfer ibarat selimut yang membuat bumi tetap hangat. Secara alami, konsentrasi gas rumah kaca sebenarnya berubah setiap saat yang diikuti dengan berubahnya iklim. Periode ketika iklim menjadi hangat menunjukkan bahwa konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer saat itu tinggi, sedangkan periode ketika iklim menjadi lebih dingin menunjukkan bahwa konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer adalah rendah. Perubahan tersebut sebenarnya merupakan siklus alami yang terjadi dalam skala waktu ribuan bahkan jutaan tahun setiap periode.

Namun saat ini perubahan konsentrasi gas rumah kaca tersebut tidak lagi terjadi secara alamiah, tetapi juga dipengaruhi oleh aktivitas manusia, yang dampaknya baru disadari setelah jangka waktu lama.

Apa saja yang disebut gas rumah kaca yang secara alami berada di atmosfer? Yang termasuk gas rumah kaca di atmosfer adalah sebagai berikut :

1. Uap air. Uap air memperangkap panas di atmosfer dan memberikan kontribusi terbesar dalam efek rumah kaca. Konsentrasi uap air di atmosfer sebenarnya tidak secara langsung hasil dari aktivitas manusia. Namun karena udara yang lebih panas menahan lebih banyak uap air, maka kenaikan suhu bumi sebagai akibat dari efek gas rumah kaca yang lain menyebabkan konsentrasi uap air di atmosfer semakin banyak. More warming means more water vapour in atmosphere.

2. Karbondioksida, yang merupakan komponen alami gas rumah kaca di atmosfer, dan bersifat sangat reaktif secara biologi. Konsentrasi karbondioksida dapat dikurangi melalui proses fotosintesis pada tanaman dan melalui oksidasi biologi (respirasi), lalu dilepaskan lagi sebagai gas CO2 dan kembali ke atmosfer. Sumber utama CO2 di atmosfer adalah respirasi hewan, penguraian karbon tanah dan material organic yang telah mati oleh bakteri, dan flux lautan ke atmosfer. Sedangkan media pemerangkap karbon antara lain adalah tanaman, lautan, dan rawa. Siklus alami ini sebenarnya dapat menjaga konsentrasi CO2 di atmosfer untuk tetap sebesar 280 ± 10 ppmv (parts per million by volume) selama ribuan tahun sebelum revolusi industri pada pertengahan abad 18. Namun sejak revolusi industri, aktivitas manusia menambah konsentrasi CO2 di atmosfer secara signifikan.

Reservoir penampung karbon yang sangat besar, yang menyimpan karbon fosil organic (seperti batubara, minyak bumi, dan gas bumi) di kulit bumi telah dieksploitasi besar-besaran, dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Bahan bakar fosil ketika dibakar akan mengeluarkan emisi karbondioksida ke atmosfer.

Menurut Hardy (2003), secara global, 80% emisi CO2 yang dihasilkan oleh aktivitas manusia berasal dari kegiatan industri dan transportasi. Sisanya, 20%, berasal dari penggundulan hutan dan pembakaran biomassa. Separuh dari hutan di dunia telah hilang selama periode setengah abad pada abad 20.

Mineral karbonat yang digunakan dalam memproduksi semen juga melepaskan emisi karbon ke atmosfer, sebesar 6.5 milyar ton per tahun (6.5 GtC, gigatons of Carbon). Negara paling banyak melepaskan emisi karbon di dunia adalah Amerika Serikat, China, dan Rusia. Gambar di bawah ini adalah grafik konsentrasi CO2 di atmosfer dari tahun 1000 – 2009 berdasarkan data dari Earth Policy Institute.

3. Gas Methane (CH4). Secara alami, gas methane diproduksi oleh penguraian material organik oleh bakteri tanpa adanya oksigen (anaerobic). Rawa alami, sedimen pantai, dan lautan melepaskan emisi gas CH4 ke atmosfer dengan konsentrasi yang signifikan. Gas methane ini ketika di atmosfer dapat bereaksi dengan ion OH- untuk membentuk karbon monoksida (CO).

Konsentrasi gas methane di atmosfer meningkat sebesar 150% sejak tahun 1750, dan saat ini meningkat sangat cepat sekitar 1.1% per tahun. Separuh dari emisi gas methane dihasilkan oleh anthropogenic sources seperti industri peternakan, pertanian padi lahan gambut, tempat pengolahan limbah, serta produksi batubara, minyak dan gas.

Berikut ini adalah grafik prosentase penghasil emisi gas methane dari aktivitas manusia (sumber : WRI 2002, dalam Hardy, 2003).

Hanya itukah gas rumah kaca? Masih ada lagi gas rumah kaca yang lain, insyaallah dilanjutkan pada tulisan berikutnya.

Sumber : John T. Hardy, 2003, Climate Change : Causes, Effects, and Solutions, John Wiley and Sons Ltd, England.

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

One thought on “Gas Rumah Kaca (I)

  1. Pingback: PROSES TERJADINYA GAS RUMAH KACA DAN DAMPAKNYA | cirenggoreng

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s