P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

Kecerdasan Emosional

Leave a comment

 

Dalam buku Outliers : The Story of Success, Malcolm Gladwell menyebutkan bahwa IQ (Intelligence  Quotient) saja tidak cukup jika seseorang ingin meraih kesuksesan dalam karir dan kehidupan. Selain itu, Prof. Howard Gardner, peneliti Harvard University yang terkenal dengan teori kecerdasan ganda (theory of multiple intelligences) dalam salah satu penelitian yang menggunakan sampel anak-anak muda yang baru memulai karier profesionalnya menyimpulkan bahwa IQ hanya berperan sekitar 6 % – 10 % dalam kesuksesan karier mereka. Ada banyak faktor lain yang diperlukan untuk mendukung kesuksesan karier seseorang, yang ternyata menurut Daniel Goleman faktor-faktor lain tersebut berada dalam domain kecerdasan emosional (emotional intelligence). Sebagai orang tua, selain membentuk kecerdasan intelektual, kita juga harus membentuk kecerdasan emosional (dan kecerdasan spiritual) anak-anak kita jika ingin melihat mereka sukses di masa depan.

Apa saja faktor yang termasuk dalam domain kecerdasan emosional? Dari beberapa referensi yang saya baca, kecerdasan emosional meliputi intrapersonal skills, interpersonal skills, adaptability skills, stress management skills, dan general mood skills. Yang termasuk dalam kategori intrapersonal skills antara lain adalah bisa memahami diri sendiri (termasuk mengetahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri), bersikap tegas (termasuk bisa berkata tidak untuk hal-hal yang tidak baik), bisa mengendalikan emosi, mandiri (termasuk bisa menjaga diri sendiri dan bisa membuat keputusan sendiri), dan bisa mengaktualisasikan diri.

Sedangkan interpersonal skills antara lain memiliki empati atau kepedulian kepada orang lain, memiliki tanggung jawab sosial, bisa berkawan dengan orang lain, dan dapat bekerja dalam tim. Memiliki tanggung jawab sosial contohnya adalah mentaati aturan dan hukum yang berlaku, tidak membuang sampah sembarangan, dan selalu berusaha tepat waktu. Faktor berikutnya adalah adaptability skills, yaitu antara lain kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan atau fleksibel, dan bisa memecahkan masalah. Bersikap sabar ketika menghadapi masalah, selalu berpikir positif, selalu bersyukur, dan murah senyum ketika berinteraksi dengan orang merupakan beberapa sifat yang dapat digolongkan ke dalam stress management skills dan general mood skills.

Mendidik anak-anak agar memiliki kecerdasan emosional mungkin tidak lebih mudah jika dibandingkan dengan mendidik kecerdasan intelektual mereka. Kita mungkin bisa bergantung kepada guru anak-anak di sekolah dan buku-buku dalam hal mendidik kecerdasan intelektual, tetapi tidak demikian halnya dengan mendidik kecerdasan emosional. Peran keluarga sangat penting dalam membentuk kecerdasan emosional anak-anak kita. Daniel Goleman menyebutkan bahwa keluarga adalah sekolah pertama untuk anak-anak belajar tentang kecerdasan emosional.

Pengasuhan anak yang baik memerlukan lebih dari sekedar intelektual. Pengasuhan anak yang baik harus melibatkan emosi. Menurut hasil penelitian yang dipublikasikan di newhorizons, anak-anak yang diasuh oleh orang tua yang memberikan contoh kecerdasan emosional yang baik dan konsisten ternyata mempunyai kesehatan fisik yang lebih baik, lebih berprestasi secara akademik di sekolah, bergaul dengan baik bersama teman-temannya, dan lebih sehat secara emosional.

Anak-anak pertama kali belajar tentang kecerdasan emosional dari orang tuanya, termasuk bagaimana mengontrol keinginan; menjalin hubungan / silaturahmi dengan orang lain; mengendalikan rasa marah, sedih, dan takut; kepeduliannya dengan orang lain; memotivasi; dan bagaimana bersikap ketika dianugerahi kebahagiaan atau ketika menghadapi musibah. Jadi benar, sekolah pertama untuk belajar kecerdasan emosional bagi anak-anak adalah keluarga.

Sebagai seorang Muslim, saya sangat bersyukur karena Rasulullah Muhammad SAW meninggalkan banyak tuntunan untuk menjalani kehidupan di dunia agar diberkahi di dunia dan di akhirat, termasuk tuntunan yang dalam dunia modern ini disebut dengan kecerdasan emosional. Salah satu contoh, ketika marah, Rasulullah tidak mengungkapkannya dengan ucapan atau tindakan yang menyakiti, tetapi hanya memperlihatkan perubahan ekspresi wajah (Dr. Shahid Athar). Sifat jujur, tegas, sabar, dan kehidupan sederhana yang dijalani oleh Rasulullah juga menunjukkan kecerdasan emosional yang dimilikinya.

Memang tidak mungkin kita meniru 100 % perilaku Rasulullah, namun setidaknya kita berusaha untuk mempraktekkan kecerdasan emosional yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah dalam mendidik anak-anak kita. Dengan memberi bekal kecerdasan emosional kepada anak-anak kita, mudah-mudahan kita bisa mengantarkan mereka agar sukses dalam hidupnya di masa depan. Tidak hanya sukses di dunia, tetapi juga sukses di akherat. 

Salam dari Newcastle upon Tyne, 2 September 2010

(tulisan ini tidak lebih adalah untuk mengingatkan saya pribadi, yang telah diberi amanah untuk membesarkan dan mengasuh 3 orang anak)

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s