P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

SYUKUR

Leave a comment

Sejak saya masih kecil, kedua orang tua saya yang berprofesi sebagai guru mengajarkan untuk selalu bersyukur. Orang tua saya menggunakan banyak ilustrasi agar saya selalu bersyukur saat saya masih kecil, sebagai contoh ketika ada pengemis yang lewat di depan rumah, ayah saya berkata “Kamu harus bersyukur, lihat pengemis yang sudah tua tadi, dia berjalan kaki dari satu tempat ke tempat yang lain untuk meminta-minta. Kita tidak bernasib semalang itu.” Atau di kesempatan yang lain ketika ada penjual tape singkong keliling kampung mengayuh sepeda onthelnya di siang hari yang panas, ayah atau ibu saya berkata “Kasihan ya bapak tua itu, harus mengayuh sepedanya pada siang hari yang panas untuk mencari nafkah. Kamu harus bersyukur karena Bapak dan Ibu diberi rejeki yang lebih baik sehingga mampu mengendarai sepeda motor untuk berangkat mengajar”. Biasanya juga, perkataan orang tua saya dilanjutkan dengan kalimat “Makanya kamu harus rajin belajar supaya nasibmu tidak semalang pengemis atau penjual tape singkong keliling yang sudah tua itu.”

Ketika kuliah, saya tinggal dengan keluarga paman saya. Sama seperti orang tua saya, paman dan bulik (bulik adalah sebutan untuk adik perempuan dari ibu atau ayah dalam bahasa Jawa) juga mengajarkan saya untuk selalu bersyukur. Bahkan sampai saya menikah dan dikaruniai 3 orang anak, ayah ibu serta paman dan bulik masih mengingatkan saya untuk selalu bersyukur. Paman saya juga pernah berkata bahwa tugas manusia ketika hidup itu hanya 3, yaitu berusaha / ikhtiar, berdoa, dan bersyukur. Tentu ketiga hal tersebut maknanya sangatlah luas.

Sebenarnya apa arti kata “syukur” itu? Kata syukur adalah kata yang berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “rasa terima kasih kepada Allah”. Menurut Dr. Quraish Shihab, kata “syukur” mengisyaratkan “Siapa yang merasa puas dengan yang sedikit, maka ia akan memperoleh banyak, lebat, dan subur.” Kata “syukur” dapat juga mengandung arti “gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.”

Kepada siapa kita bersyukur? Pada prinsipnya segala bentuk rasa syukur harus ditujukan kepada Allah SWT. Al Quran memerintahkan umat Islam untuk bersyukur setelah menyebut beberapa nikmat-Nya seperti difirmankan dalam QS. Al Baqarah : 152 “Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” Selanjutnya dalam QS. Luqman : 12 disebutkan “Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada Luqman hikmah, yaitu : Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya sendiri.”

Apa saja yang harus kita syukuri? Tentu tak terhitung nikmat yang harus kita syukuri. Nikmat yang paling mudah dan setiap detik kita rasakan adalah nikmat kemampuan bernafas, alias nikmat hidup. Oleh karena itu dalam setiap tarikan nafas kita, kita harus selalu bersyukur. Kita harus bersyukur ketika masih bisa bernafas secara normal dan teratur, karena ketika kita berhenti bernafas, maka kita bukan lagi menjadi manusia hidup. Nikmat berikutnya yang tak ternilai harganya adalah nikmat sehat. Ketika sehat, kita bisa merasakan makan dengan enak, tidur dengan nyaman, bekerja dengan semangat, dan beribadah secara optimal. Mempunyai asisten rumah tangga yang setia dan baik hati juga suatu nikmat yang harus disyukuri, karena banyak keluarga yang mengalami perampokan dengan otak perampokannya adalah asisten rumah tangganya sendiri. Mempunyai orang tua yang utuh, keluarga yang bahagia juga merupakan suatu nikmat yang harus disyukuri. Mendapat kesempatan sekolah ke luar negeri dengan gratis juga merupakan nikmat yang harus disyukuri, karena tidak semua orang dikarunia rejeki untuk melanjutkan studi ke luar negeri (gratis pula). Mungkin sampai hari akhir nanti, kita tidak sanggup menghitung nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita.

Lalu bagaimana cara kita bersyukur? Dr. Quraish Shihab mengutarakan bahwa syukur mencakup 3 sisi, yaitu syukur dengan hati, syukur dengan lidah, dan syukur dengan perbuatan. Syukur dengan hati adalah kepuasan batin atas anugerah, yaitu menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah, sekecil apa pun nikmat tersebut. Kadang kepuasan batin atas anugerah yang kita terima kita ungkapkan dengan sujud syukur. Ketika ditimpa musibah pun kita harus tetap bersyukur. Seperti kebiasaan orang Indonesia, misalnya ketika rumah seseorang dimasuki pencuri dan hanya handphone yang diambil, ungkapan yang spontan keluar biasanya adalah “Syukur cuma handphone yang diambil, syukur tidak ada yang dilukai.”

Syukur dengan lidah yaitu dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya, kalau umat Islam yaitu dengan mengucap alhamdulillah (Segala puji hanya untuk Allah). Ketika kita dipuji oleh orang lain karena misalnya, dikarunia badan yang bagus dengan wajah yang cantik atau ganteng dan otak yang cerdas, maka kita harus mengucap alhamdulillah. Syukur dengan perbuatan yaitu dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya. Sebagai contoh, Allah menganugerahkan air hujan untuk dunia dan seisinya, maka sebagai ungkapan rasa syukur, manusia harus memanfaatkan air hujan untuk irigasi, pembangkit listrik tenaga air, menghidupi ternak dan lain-lain untuk kesejahteraan di dunia. Contoh yang lain, Allah memberi nikmat kepada saya untuk melanjutkan studi di luar negeri, maka saya harus mewujudkan rasa syukur saya dalam perbuatan nyata, yaitu belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak pernah mengeluh betapa pun beratnya jalan yang harus dilalui. Bayangkan, dari ratusan juta penduduk Indonesia, berapa banyak yang bisa sekolah ke luar negeri dengan gratis? Maka dzalim namanya kalau saya tidak bersyukur.

Adakah manfaat bagi orang yang selalu bersyukur? Dalam QS. Ibrahim : 7 disebutkan bahwa “Apabila kamu bersyukur, maka pasti akan Kutambah nikmat-Ku, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.” Jadi Allah menjanjikan akan menambah nikmat yang diberikan bagi umatnya yang bersyukur. Tambahan nikmat yang diberikan oleh Allah kepada umatnya yang bersyukur tentu tidak selalu dalam bentuk materi, bisa saja berupa nikmat bahagia, nikmat luasnya silaturahmi, nikmat diberi kemudahan untuk setiap urusan, dan lain-lain.

Bagaimana kalau kita enggan bersyukur, apakah akan mengalami kerugian? Selain dalam QS. Ibrahim : 7 di atas, dalam QS An-Nahl : 112 juga disebutkan “Allah telah membuat satu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru, tetapi penduduknya kufur (tidak bersyukur atau tidak bekerja untuk menampakkan) nikmat-nikmat Allah (yang terpendam). Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka mengenakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan oleh perbuatan (ulah) yang selalu mereka lakukan.” Pada dunia modern ini, cerminan dari orang-orang yang tidak bersyukur adalah para koruptor yang tidak pernah merasa puas menumpuk harta sampai menghalalkan segala cara untuk memiliki uang yang bukan haknya. Tentu para koruptor itu akan merasakan hukumannya, baik di dunia atau pun di akhirat.

Mudahkah kita untuk bersyukur? Pada dasarnya manusia tidak mampu untuk bersyukur secara sempurna, baik dalam ucapan atau perbuatan. Jadi wajar jika dalam kehidupan sehari-hari banyak ditemui orang-orang yang dilimpahi nikmat dan anugerah tetapi kurang bersyukur dan cenderung banyak mengeluh. Oleh karena itu manusia wajib memohon kepada Allah untuk dibimbing dan diberi kemampuan untuk dapat mensyukuri nikmat-Nya seperti difirmankan dalam QS. An-Naml : 19 “Dia berdoa : Wahai Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai.” Dalam QS. Al-Ahqaf : 15 juga disebutkan “Ia berdoa : “Wahai Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridlai.” Rasulullah Muhammad SAW pun berdoa dan mengajarkan doa itu untuk dipanjatkan oleh umatnya : “Wahai Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur untuk-Mu, dan beribadah dengan baik bagi-Mu.”

Sangat jelas tuntunan bagi kita umat Islam dalam mensyukuri nikmat Allah. Dan untuk menumbuhkan kebiasaan bersyukur, tentu harus diawali dari keluarga. Lahir sebagai seorang Muslim tidak otomatis membuat kita menjadi Muslim yang selalu bersyukur. Untuk menjadi Muslim yang selalu bersyukur, harus melalui usaha dan proses. Dan usaha serta proses tersebut diawali dari keluarga. Mudah-mudahan kita termasuk umat yang selalu diberi kemudahan untuk bersyukur, dan bisa mendidik anak-anak kita menjadi umat yang juga selalu bersyukur.

Salam dari Newcastle upon Tyne, 12 September 2010

Referensi : 
 http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Syukur1.html
http://www.islamtimes.org/vdccoeqs.2bq1i8y-a2.html

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s