P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

ORIGAMI

Leave a comment

Melipat kertas adalah salah satu kegiatan yang saya sukai saat saya masih bersekolah di taman kanak-kanak, selain pelajaran menggambar. Sebutan populer untuk seni melipat kertas adalah origami, yang merupakan kata dalam bahasa Jepang yang secara harfiah berasal dari kata ori (melipat) dan gami (kertas). Sampai dewasa pun saya masih menyukai origami. Dulu waktu saya masih kuliah, saya sangat senang ketika melihat keponakan atau sepupu saya yang masih kecil sangat gembira bermain dengan jumping frog dari kertas yang saya buatkan. Sekarang 3 orang anak saya juga sangat gembira ketika saya buatkan berbagai mainan dari kertas. Saat liburan, origami menjadi salah satu kegiatan berbiaya murah bagi anak-anak saya untuk mengisi liburan, selain belajar memasak dan kegiatan outdoor.

Walaupun origami adalah kata dalam bahasa Jepang, sebenarnya seni melipat kertas ini berawal dari negeri Cina sekitar abad I – II Masehi, dan baru menyebar ke Jepang sekitar abad VI (sumber dapat dibaca di sini). Saat itu hanya orang kaya yang bisa melakukan seni melipat kertas ini, karena ketersediaan kertas yang sangat terbatas sehingga harganya mahal. Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi, kertas sangat mudah untuk diproduksi, dan harganya menjadi semakin terjangkau. Origami pun menjadi seni yang sangat populer, dan tidak hanya bisa dilakukan oleh orang kaya.

Origami pertama kali menyebar ke Spanyol saat bangsa Moors yang berasal dari Afika menginvasi Jepang dan membawa ilmu melipat kertas ini ke Spanyol pada abad VIII. Dan setelah itu, origami pun menyebar ke Amerika Latin, Eropa, dan Amerika Serikat. Selama berabad-abad, origami ditularkan secara turun menurun melalui lisan dan praktek langsung, tidak ada instruksi tertulis. Baru pada tahun 1797, buku tentang origami dicetak di Jepang. Buku yang berjudul How to Fold 1000 Cranes tersebut adalah instruksi tertulis yang pertama tentang bagaimana melipat kertas menjadi bentuk sejenis burung bangau (burung bangau adalah burung yang dianggap suci di Jepang).

Origami bukan sekedar kegiatan menyenangkan bagi anak-anak. Menurut George Levenson, ada banyak manfaat dari sudut pandang pendidikan yang dapat diambil dari kegiatan origami. Origami adalah salah satu contoh kegiatan belajar secara skematik yang dilakukan berulang-ulang. Agar sukses dalam melipat kertas menjadi bentuk yang diinginkan, maka seorang anak harus memperhatikan dengan cermat dan mendengarkan dengan seksama instruksi yang diberikan, dan kemudian mempraktekannya dengan rapi dan tepat. Seringkali proses melipat kertas ini tidak langsung jadi, tetapi kadang membutuhkan pengulangan. Dan ketika seorang anak berhasil melipat kertas menjadi bentuk yang diinginkan, maka mereka akan sangat gembira dan mengekspresikan kegembiraannya kepada guru dan teman-temannya. Origami juga melatih kesabaran. Selain itu, origami juga mengasah kemampuan untuk memfokuskan energy, meningkatkan harga diri anak, dan menimbulkan rasa bangga atas hasil karyanya. Dari sudut pandang pendidikan, manfaat ini terkait dengan pembentukan behavioural skills.

Origami dapat dilakukan bersama-sama baik di dalam ruang kelas atau pun di rumah, sehingga bisa mengasah kemampuan anak-anak untuk bekerjasama dalam tim. Origami juga bermanfaat untuk mengenalkan anak-anak kepada ilmu matematika, terutama untuk mengenalkan simetri, bentuk / geometri, dan aljabar dasar. Selain itu, origami juga dapat membantu mengembangkan kemampuan motorik anak-anak dan mendidik anak-anak untuk mengapresiasi budaya yang berasal dari negara lain.  Bahkan origami dapat digunakan untuk terapi fisik (sumber dapat dibaca di sini).

Bagi anak-anak saya, bermain game di komputer seringkali membosankan. Selain membaca buku, belajar memasak dan berolah raga, origami adalah salah satu kegiatan yang disukai anak-anak saya selama liburan. Memang mengisi liburan tidak harus selalu mengeluarkan biaya mahal, dan dengan biaya murah pun kita bisa mendapat banyak manfaat.

Newcastle upon Tyne, Agustus 2011

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s