P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

Kisah Penebang Kayu dan Iblis

2 Comments

Kisah tentang penebang kayu dan iblis di bawah ini saya kutip persis dari buku Hati, Diri dan Jiwa : Psikologi Sufi untuk Transformasi tulisan Robert Frager (Syekh Ragib al-Jerahi). Saya sangat suka dengan kisah ini karena dengan dahsyat memperingatkan saya, seorang manusia yang mempunyai banyak jiwa dan nafsu, yang harus selalu berjuang menyeimbangkan jiwa-jiwa dan nafsu itu.

Alkisah ada seorang penebang kayu yang taat dan tinggal di sebuah hutan yang berdekatan dengan desa yang penghuninya adalah suku primitif. Para suku primitif itu menyembah sebuah pohon besar yang tumbuh di tengah desa. Suatu ketika si penebang kayu ingin menebang pohon yang disembah tersebut. Ia ingin menunjukkan kepada suku primitif tersebut bahwa yang mereka sembah itu bukanlah apa-apa selain ciptaan Tuhan, dan bahwa mereka seharusnya menyembah Tuhan, bukan pohon.

Saat si penebang kayu berjalan menuju hutan tersebut, seorang pria mencegahnya dan menanyakan ke mana ia akan pergi. “Demi Tuhan, aku akan menebang pohon yang disembah oleh suku yang hidup di tengah hutan”, kata si penebang kayu.

“Itu suatu kesalahan,” kata pria tersebut mengingatkan.

“Siapakah kau hingga berhak mengatakan apa yang harus kulakukan ?” tanya si penebang kayu.

 “Aku adalah iblis dan aku tidak akan membiarkan dirimu menebang pohon tersebut”.

Penebang pohon marah dan menarik sang iblis serta membantingnya ke tanah, dan melekatkan kampaknya pada leher iblis.

Lalu iblis tersebut berkata, “Kau bersikap tidak masuk akal. Suku tersebut tidak akan pernah membiarkan dirimu menebang pohon suci mereka. Bahkan, jika kau mencoba melakukannya, mereka mungkin akan membunuhmu. Istrimu akan menjadi janda dan anak-anakmu akan menjadi yatim. Selain itu, bahkan jika kau berhasil menebang pohon tersebut dan selamat, maka mereka akan memilih pohon yang lain untuk disembah. Maka pikirkanlah.”

 Iblis tersebut melanjutkan, “Aku akan membuat penawaran denganmu. Aku tahu bahwa kau seorang miskin, namun juga taat. Kau mempunyai sebuah keluarga yang besar, dan kau senang membantu orang lain. Setiap pagi aku akan menaruh dua koin emas. Selain terhindar dari bahaya pembunuhan dan tidak memperoleh apa pun, kau dapat menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan keluargamu dan membantu orang-orang miskin.”

Penebang kayu menyetujuinya. Esok paginya, ia menemukan dua buah koin emas di bawah tempat tidurnya. Lalu ia membeli makanan dan pakaian baru untuk keluarganya dan membagikan sisa uangnya untuk orang-orang miskin. Pada pagi berikutnya, penebang kayu tersebut tidak menemukan apa pun. Ia telah mencari ke seluruh ruangan, tetapi tetap tidak menemukan koin emas.

 Marah terhadap penkhianatan iblis, si penebang kayu mengambil kampaknya dan bersiap pergi untuk menebang pohon yang disembah oleh suku primitif di tengah hutan.

Sang iblis pun kembali mencegahnya, dan sambil tersenyum ia bertanya, “Kau akan pergi ke mana wahai penebang kayu ?”

“Penipu, pembohong !! Aku akan menebang pohon itu !” teriak penebang kayu.

Lalu iblis menyentuh dada si penebang kayu dengan satu jarinya. Si penebang kayu terjatuh ke tanah, pingsan akibat kekuatan sentuhan tersebut. Lalu, iblis menyentuh dada sang penebang kayu dengan satu jarinya dan menekannya ke tanah. Sang iblis berkata, “Kau ingin aku membunuhmu ? Dua hari lalu kau akan membunuhku. Berjanjilah, kau tak akan menebang pohon yang disembah itu.”

Sang penebang kayu menjawab, “Aku berjanji tidak akan menebang pohon tersebut. Tetapi katakanlah satu hal kepadaku, dua hari lalu aku mengalahkan dirimu dengan mudah. Darimana kau dapatkan kekuatan yang luar biasa pada hari ini ?”

Iblis pun tersenyum dan berucap “Saat itu kau akan menebang pohon tersebut karena Tuhan. Namun hari ini kau berkelahi denganku karena dua buah koin emas !”

Kisah di atas menggambarkan ketulusan dari si penebang kayu yang hanyalah bersifat sementara dan dengan mudah digoyahkan oleh iblis.

Sungguh sebuah kisah yang memberikan pelajaran sangat berharga buat saya, sudahkah saya melakukan kebaikan dengan ketulusan yang sempurna ?
 

Sumber : Robert Frager (Shekh Ragib al-Jerahi), “Hati, Diri dan Jiwa : Psikologi Sufi Untuk Transformasi” (terjemahan dalam bahasa Indonesia), hal. 212 – 214, Penerbit Serambi.

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

2 thoughts on “Kisah Penebang Kayu dan Iblis

  1. i like the story very much, thank u

  2. You’re welcome.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s