P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

Ihwal Pangan

Leave a comment

Saat ini saya dan keluarga sudah memasuki tahun ke-3 tinggal di Newcastle, dan selama ini belum pernah sekali pun saya terbang kembali ke Indonesia. Kalau suami saya lebih beruntung karena sudah 2 kali pulang ke Indonesia, secara kilat, masing-masing hanya seminggu karena saya dan anak-anak sangat membutuhkan kehadirannya…🙂. Tidak terasa ternyata sudah cukup lama saya meninggalkan Jogja dan Solo, meninggalkan orang tua, mertua, om, tante, pakdhe, budhe, adik, kakak, sepupu dan teman. Selain itu juga meninggalkan mbak-mbak dan ibu-ibu penjual di pasar-pasar langganan saya, pasar Condong Catur dan pasar Sêtan (bukan pasar setan lho ya…🙂 ), serta meninggalkan mbak-mbak dan mas-mas karyawan Superindo. Terus terang kalau membayangkan pasar Condong Catur, pasar Sêtan dan toko Superindo, saya bahkan teringat baunya segala (dan ini nanti juga akan terjadi saat saya pulang ke Jogja…hehe, kangen bau toko halal, kangen bau kampus, kangen bau toko China, dll).

Di Newcastle ini, toko yang sering saya kunjungi selain toko halal dan toko lokal adalah toko China, sama seperti saat saya sekeluarga tinggal di Loughborough tahun 2004 – 2005. Toko China selalu menarik buat saya. Bahkan saat berkunjung ke Nottingham, Manchester, Leicester atau London, saya mencari toko China. Karena di toko China saya bisa menemukan banyak produk Indonesia seperti kecap ABC, saus sambal ABC, mie instant Indomie, atau pasta pandan cap Koepoe-Koepoe. Selain itu, di toko China kadang saya menemukan produk pertanian yang sebelumnya tak pernah terbayangkan bisa saya temukan di negeri ratu Elizabeth ini, seperti petai (walau pun saya jarang sekali membelinya, karena suami saya tidak suka petai), biji nangka (orang Jawa menyebutnya beton, tapi bukan beton untuk konstruksi lho ya…🙂 ), daun pandan, kelapa parut, jambu biji, jambu air, daun pisang, durian, singkong (ada yang potongan, ada yang parut), dan talas (ada yang potongan utuh, ada yang parut dan ada yang berwarna putih, ada yang ungu).

Di satu sisi saya sangat senang bisa menemukan produk-produk yang saya sebut di atas karena memudahkan saya untuk menyiapkan menu yang bervariasi untuk suami dan anak-anak (maklum produk pangan asli UK sangat terbatas, dan membosankan), tetapi di sisi lain saya juga sedih karena komoditi pertanian yang saya sebut di atas tak ada satu pun yang produk Indonesia. Buah-buahan tropis yang dikemas dalam kaleng seperti nanas, mangga, rambutan, lengkeng, dan nangka pun tak ada yang produk Indonesia. Begitu juga komoditi pertanian yang dibekukan seperti daun pisang, ubi rambat, singkong, dan talas, tak ada yang produk Indonesia.

Ketika melihat komoditi pertanian tropis tersebut bisa dengan mudah saya temukan di UK, dan tak ada satu pun yang produk Indonesia, saya teringat cerita beberapa orang teman tentang begitu tidak berharganya singkong, ubi rambat, mangga, rambutan, dll saat panen raya di Indonesia. Saya tidak begitu memahami masalah pertanian di Indonesia, bagaimana management dan sistem distribusinya, tetapi saya yakin ada yang salah dengan sistem pertanian di Indonesia. Kalau negara-negara seperti Kamboja, Vietnam, Thailand, dan Philipina bisa mengeskpor komoditi pertaniannya ke negara-negara Eropa, mengapa Indonesia tidak bisa? Bahkan kabarnya negara kita mengimpor beberapa komoditi pertanian dari negara lain.

Apakah negara maju seperti Jepang, UK, dan USA mengabaikan sektor pertanian, atau lebih luas lagi sektor pangan? Sepertinya tidak. Lalu apakah sektor pertanian telah diabaikan di Indonesia?  Entahlah, tetapi memang sepertinya praktek sustainable agriculture belum menjadi prioritas di Indonesia. Menurut University of California Sustainable Agriculture Research and Education Program, dalam konteks sustainability, perspektif sistem sangat penting untuk dipahami, termasuk di sektor pertanian. Pendekatan sistem dalam sektor pertanian tentu membutuhkan pendekatan multidisipliner yang memerlukan masukan tidak hanya dari para peneliti dari berbagai disiplin ilmu, tetapi juga melibatkan masukan dari petani, konsumen, penentu kebijakan, dan pemangku kepentingan yang lain.  Sulitkah untuk Indonesia? Entahlah. Ternyata memang masih banyak tantangan di Indonesia, termasuk dari sektor yang paling mendasar, sektor pangan.

Newcastle upon Tyne,

02.01 a.m, 11 February 2012

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s