P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

Banjir 2 (Banjir dan Perilaku Manusia)

Leave a comment

Catatan : tulisan ini adalah tulisan asli sebelum diedit dan dimuat di Koran Tempo Edisi 23 Januari 2013.

Beberapa bulan terakhir ini sebagian wilayah Jakarta dilanda banjir lebih dari satu kali. Bahkan Istana Negara pun tergenang oleh banjir. Penyebab banjir tersebut diperkirakan adalah hujan dengan durasi lama yang menyebabkan air meluap dari sungai utama, serta limpasan permukaan yang berlebih tak bisa disalurkan oleh sungai, saluran banjir, dan jaringan drainase yang kondisinya tidak layak. Kerugian akibat banjir tentu sangat besar, baik kerugian material maupun non-material. Pengaturan dan pengelolaan banjir di Jakarta sebenarnya telah dilakukan selama beberapa dekade, namun banjir tetap saja melanda beberapa wilayah Jakarta. Banjir sesungguhnya adalah fenomena alam yang bisa terjadi secara alamiah maupun sebagai akibat dari aktivitas yang dilakukan oleh manusia, dan memang tak bisa dihilangkan secara total. Fenomena banjir akan tetap ada, namun demikian kita bisa mengurangi dampak buruknya dengan menggunakan pendekatan yang tepat.

Apakah penyebab banjir di Jakarta hanya faktor hujan? Tentu saja tidak. Dari sudut pandang pengelolaan banjir terpadu seperti dilaporkan oleh Associated Programme on Flood Management (APFM, 2006), pemicu terjadinya banjir tidak hanya faktor hujan. Ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab banjir antara lain faktor perubahan iklim, perubahan tataguna lahan, kerusakan lingkungan, dan faktor sosial-ekonomi. Karena faktor penyebab banjir beragam, maka pengelolaan banjir terpadu memerlukan pendekatan multidisipliner. Dalam pelaksanaannya, pengelolaan banjir terpadu menggunakan penanganan secara struktural dan non-struktural dalam satu kerangka dengan pengelolaan sumberdaya air terpadu. Pendekatan struktural dan non-struktural tersebut harus saling melengkapi dan dilaksanakan bersama.

Pendekatan Struktural dan non-Struktural

Pendekatan struktural untuk mengatasi masalah banjir antara lain dengan pembangunan saluran banjir, jaringan drainase, sumur resapan, reservoir, dan sejenisnya. Sedangkan pendekatan non-struktural meliputi antara lain penghutanan kembali daerah hulu, mendidik masyarakat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan, pembuatan peraturan terkait pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan, penegakan hukum, menciptakan sistem peringatan dini terhadap ancaman banjir, membentuk disaster emergency response unit, meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar pemangku kepentingan, dan meningkatkan kapasitas para pemangku kepentingan dengan mengadakan pelatihan atau kursus singkat.

Tidak hanya di Indonesia, negara-negara maju seperti Inggris dan Amerika Serikat pun menghadapi masalah banjir. Inggris mengeluarkan dana cukup besar untuk mengurangi resiko banjir, baik untuk penanganan secara struktural maupun non-struktural (Dawson, 2011). Secara struktural, seperti di Indonesia, mereka membangun beberapa fasilitas untuk mengontrol banjir seperti kanal, saluran air hujan / drainase, Thames barrier, reservoir dan sebagainya.

Pemerintah DKI Jakarta melalui instansi terkait juga telah melakukan beberapa upaya teknis untuk mengurangi ancaman banjir, antara lain dengan membangun saluran Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur, membuat Waduk Pluit, dan melakukan pengerukan Sungai Ciliwung secara rutin. Namun seperti yang bisa kita lihat di beragam media, saluran banjir dan sungai telah berubah menjadi tempat sampah raksasa. Masyarakat yang sepertinya sudah terbiasa dengan budaya instant banyak yang seenaknya membuang sampah di sungai dan saluran-saluran yang seharusnya berfungsi sebagai sarana untuk mengalirkan limpasan permukaan yang berlebih saat musim hujan. Kondisi ini sangat berbeda dengan di negara maju seperti Inggris di mana sungai, kanal, saluran air hujan, dan reservoir bersih dari sampah, sehingga lancar mengalirkan dan menampung limpasan permukaan yang berlebih saat banjir.

Di Jakarta, kita juga mudah menemukan pemukiman di sepanjang bantaran sungai. Sejatinya, bantaran sungai adalah milik sungai, bagian sungai untuk mengalirkan air saat debit melimpah. Mengapa sampai ada banyak pemukiman di sepanjang sungai di Jakarta? Karena dari awal memang tidak ada tindakan tegas dari pemerintah. Jika dari awal dibuat peraturan larangan mendirikan bangunan di sepanjang bantaran sungai dan diterapkan hukuman bagi yang melanggar peraturan tersebut, tentu kondisinya tidak seperti sekarang. Selain penegakan hukum, pemberlakuan peraturan tersebut juga harus diimbangi dengan upaya pemerintah untuk menyediakan tempat yang layak sebagai pengganti tempat tinggal warga penghuni bantaran sungai. Memang bukan masalah yang mudah, namun sebenarnya bisa dicari solusinya.

Di sisi lain, kondisi hulu dari daerah aliran sungai sangat mempengaruhi karakteristik banjir. Daerah hulu yang dahulu dihampari hutan dan sekarang sebagian besar berubah menjadi hamparan lapisan kedap air akan semakin cepat mengalirkan limpasan permukaan ke hilir dan meningkatkan resiko banjir di hilir. Karenanya, koordinasi dan kerjasama antara pemangku kepentingan di daerah hulu dan hilir sangat diperlukan. Selain itu, masalah ini juga hanya bisa diatasi jika ada peraturan dan penegakan hukum. Jika peraturan dibuat tetapi tidak ada penegakan hukum, maka pelanggaran terhadap peraturan akan terjadi dengan mudah.

Pengaruh Perilaku

Meningkatnya populasi manusia tentu memberi dampak kepada banyak hal, termasuk lingkungan. Hampir setiap aktivitas manusia menghasilkan limbah atau sampah, sehingga bisa dipahami jika volume limbah atau sampah akan meningkat seiring dengan meningkatnya populasi manusia. Sungai, kanal, saluran drainase, dan danau buatan di negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat dan Jepang bisa bersih dari sampah, seharusnya demikian juga di Indonesia. Kuncinya ada di perilaku manusianya, perilaku kita.

Di negara-negara maju, sampah dikelola dengan baik. Masyarakatnya pun dididik sejak kecil untuk mengelola sampah dengan baik. Di sekolah mereka diajarkan untuk memisahkan antara sampah organik dan sampah yang bisa didaur ulang. Mereka juga dibiasakan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Pembiasaan tersebut membentuk mereka menjadi manusia yang mempunyai perilaku peduli lingkungan (dalam konteks ilmu psikologi disebut sebagai ecological behaviour, menurut Kaisar dkk, 1999).

Karena banjir tak bisa dihentikan secara total, maka tentu kita menginginkan saluran-saluran banjir, sungai, jaringan drainase, dan danau buatan bisa mengalirkan dan menampung air banjir dengan lancar tanpa hambatan. Maka, mari kita didik anak-anak kita dan anggota lingkaran terdekat kita untuk lebih bijak dalam memperlakukan saluran-saluran dan penampung air tersebut. Juga lebih bijak dalam mengelola sampah. Ketika banjir datang, kita, manusia yang akan mengalami kerugian paling besar. Banjir tak bisa dihentikan secara total, dan perilaku kita yang akan menentukan apakah kita bisa mengurangi resiko dan dampak negatifnya.

Mari kita bantu pemerintah untuk mengurangi resiko banjir dan dampak negatifnya dengan memperbaiki perilaku kita dalam mengelola lingkungan yang telah menyediakan jasa untuk menunjang kehidupan kita.

(Tulisan di atas bisa diakses juga di http://www.tempo.co/read/kolom/2013/01/24/637/Banjir-dan-Perilaku-Manusia

Newcastle upon Tyne, Januari 2013

Purwanti Sri Pudyastuti

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s