P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

Sampah

2 Comments

Sudah sekitar 3.5 tahun saya sekeluarga tinggal di Newcastle dan merasakan mudahnya mengelola sampah rumah tangga. Pemerintah kota Newcastle menyediakan tempat sampah beroda (wheelie bin) untuk setiap rumah. Wheelie bin yang disediakan ada 2 macam, berwarna biru dan hijau. Yang berwarna hijau untuk menampung sampah umum seperti sisa makanan, limbah sayuran, tutup botol, dan sebagainya. Yang berwarna biru untuk menampung sampah yang bisa didaur ulang seperti botol plastik, kertas, kain, kardus, dan sebagainya. Tempat sampah yang berwarna biru ini dilengkapi juga dengan kotak untuk menampung baterai bekas dan sampah yang terbuat dari kaca (botol kaca, bekas tempat selai, dll). Setiap kota mempunyai kebijakan tersendiri dalam pengelolaan sampah, termasuk kebijakan tentang pendaur-ulangan sampah.

Tempat sampah warna biru (untuk recycle) dan tempat sampah warna hijau di Newcastle.

Tempat sampah warna biru (untuk recycle) dan tempat sampah warna hijau di Newcastle.

Sampah yang ditampung di tempat sampah warna hijau diambil oleh truck sampah sekali dalam seminggu, setiap hari Jum’at pagi. Sedangkan sampah yang dapat didaur ulang diambil sekali dalam 2 minggu, juga setiap hari Jum’at pagi. Hanya pada kondisi tertentu, sampah diambil pada hari Sabtu. Pemerintah kota Newcastle memberikan jadwal tertulis pengambilan sampah yang diperbarui setiap tahun.

Di Inggris, pemerintah sangat serius dalam mengelola sampah, termasuk dalam mendidik warganya untuk memilah sampah dengan baik. Di sekolah-sekolah, anak-anak diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah, mana yang bisa didaurulang dan mana yang tidak. Walaupun demikian, apa yang diajarkan di sekolah tak otomatis dipraktekkan oleh semua anak, tergantung juga bagaimana orangtua memberi contoh kepada mereka. Kadang orangtua pun masih ada yang seenaknya membuang sampah sembarangan, jadi tak jarang pula kita bisa menemukan sampah bertebaran di jalan atau di taman. Untungnya selalu ada petugas kebersihan yang siap membersihkan sampah di jalan atau di taman.

Truck Pengangkut Sampah di Loughborough (foto ini diambil tahun 2005)

Truck Pengangkut Sampah di Loughborough (foto ini diambil tahun 2005)

Beberapa minggu yang lalu, tempat sampah kami yang berwarna hijau dicuri orang. Entah apa motifnya. Di Newcastle, truck sampah tak mau mengambil sampah yang hanya ditampung di plastik dan diletakkan begitu saja di pinggir jalan, kecuali ada alasan tertulis yang ditempel di kantong plastik tersebut. Tanpa tempat sampah, tentu saja merepotkan, karena sebagian aktivitas manusia menghasilkan sampah.

Saya pun mengirim pesan melalui email ke yang berwenang (dalam hal ini Envirocall), melaporkan bahwa tempat sampah saya dicuri dan meminta untuk dikirimi tempat sampah baru. Hanya dalam hitungan jam, email saya dibalas dan mereka menjanjikan akan mengirim tempat sampah baru ke rumah kami dalam waktu 10 hari kerja. Tidak sampai menunggu 10 hari, tempat sampah baru sudah dikirim ke rumah kami, tanpa biaya alias gratis. Jika membaca di web pemerintah kota Newcastle, seharusnya saya membayar £ 25, tetapi kenyataannya saya tak ditarik biaya sepeser pun. Mungkin karena status saya international student, entahlah. Pelayanan yang sangat memuaskan warga, menurut saya.

Mengingat urusan sampah ini, pikiran saya melayang ke pengelolaan sampah di negeri tercinta Indonesia. Bukan bermaksud membandingkan, karena memang tak relevan untuk membandingkan Indonesia dengan Inggris. Dalam beberapa hal, saya akui Indonesia banyak tertinggal jika dibandingkan Inggris, dan ketertinggalannya bisa jadi dalam hitungan abad, jadi tak relevan untuk membandingkan antara keduanya.

Saya ingat beberapa waktu yang lalu masyarakat di sebuah kota besar di Indonesia merasa tidak nyaman karena tumpukan sampah yang tak dikelola dalam waktu lama. Selain tidak indah dipandang, tentu tumpukan sampah juga menimbulkan bau tidak sedap dan berpotensi menjadi sarang kuman penyebab penyakit. Sungai di beberapa kota di Indonesia pun banyak yang menjadi tempat pembuangan sampah raksasa. Di sungai Bengawan Solo yang mengalir melewati beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, beragam sampah bisa kita temukan, mulai dari sampah rumah tangga, industri, sampai buangan limbah dari peternakan.  Di Jakarta dan Bandung demikian juga kondisinya. Tentu tak indah dipandang, bahkan menjijikkan untuk sebagian orang.

Untuk mempunyai sistem pengelolaan sampah yang baik tentu butuh perencanaan yang bagus, sumberdaya yang memadai (termasuk biaya, lahan, dan peralatan penunjang), serta pengelolaan yang berkelanjutan. Pengelolaan sampah di Newcastle (dan kota-kota lain di Inggris) dilakukan dengan menggunakan dana dari pajak yang dibayarkan oleh masyarakat. Menurut laporan ini, pemerintah kota Newcastle mengeluarkan dana rata-rata sekitar 20 juta poundsterling per tahun untuk pengelolaan sampah. Sangat besar bukan?

Saya tidak tahu pasti berapa besar pendapatan pemerintah Indonesia dari pajak yang dibayarkan oleh masyarakat, dan berapa besar alokasi untuk pengelolaan sampah. Yang pasti, saya berharap suatu saat pemerintah tidak mengabaikan ihwal pengelolaan sampah, karena hampir semua aktivitas kita menghasilkan sampah. Secara individu, kita juga harus mulai mengubah perilaku dalam memperlakukan sampah. Tentu kita tidak mengharapkan tanah tempat kita tinggal penuh dengan sampah yang tak terkelola yang mengganggu kehidupan tidak hanya di masa kini tetapi juga di masa depan.

“We do not inherit the earth from our ancestors; we borrow it from our children.” (Chief Seattle)

Newcastle upon Tyne, April 2013

PSP

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

2 thoughts on “Sampah

  1. Ternyata tempat sampah di sana ada pencurinya juga ya. Barang sebesar itu mestinya mudah ketahuan kalo ada yang mengambilnya, kecuali mencurinya pake mobil atau gerobak dorong.

    Kalo di sini hanya perumahan2 elit saja yang menyediakan tempat sampah, di luar itu masyarakat sendiri yang menyediakannya. Dan itupun bentuknya ala kadarnya. Kalo bentuknya bagus ya rentan dicuri🙂

    Betul, kita harus mulai mengubah perilaku dalam memperlakukan sampah, dan itu dimulai dari diri bersama anggota keluarga.

    • Iya mas Iwan, dan yang kehilangan tempat sampah ternyata nggak cuma saya…hehe. Ada teman saya yang tempat sampahnya dicuri juga. Heran saya, apa motifnya ya? hehe…
      Tapi memang city council udah kasih himbauan agar tempat sampah segera dimasukkan begitu sampah sudah dikumpulkan oleh truck sampah. Masalahnya, truck sampah datang sekitar jam 6 – 7 pagi, kadang jam 9-an kita baru masukin lagi tempat sampah kita ke halaman. Nah, waktu 2 jam-an di luar mungkin sangat cukup digunakan oleh orang iseng untuk mencurinya…hehe.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s