P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

Out of Shadows

Leave a comment

OutofShadows

Out of Shadows adalah novel karya Jason Wallace yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2010 oleh penerbit Andersen Press Limited, London. Novel untuk pembaca yang berusia di atas 13 tahun ini mendapatkan beberapa penghargaan, antara lain Costa Children’s Book of the Year 2010 dan Branford Boase Award 2011. Jason Wallace pernah tinggal di Zimbabwe dan merasakan sekolah di boarding school di sana.

#####

Novel ini mengisahkan tentang Robert Jacklyn, seorang anak Inggris berusia belasan tahun yang mengikuti ayahnya bertugas di Zimbabwe (Rhodesia) sekitar tahun 1980-an, saat awal Robert Mugabe berkuasa.

Di Zimbabwe, Robert disekolahkan di sebuah sekolah berasrama (boarding school) yang mayoritas muridnya adalah orang kulit putih. Pertama kali masuk sekolah, Robert berkenalan dengan seorang murid berkulit hitam bernama Nelson Ndube. Ayah Robert berpesan agar Robert berteman baik dengan Nelson. Awalnya mereka berteman baik, bahkan berjanji untuk bersikap sebagai saudara.

Di sekolah tersebut sering terjadi tindak kekerasan dan pelecehan yang dilakukan oleh senior dan mayoritas. Robert, sebagaimana Nelson, sering di-bully oleh senior-seniornya. Kondisi yang sangat berbeda dengan kondisi di negeri asal Robert, Inggris. Karena sering dibully oleh senior-nya, Robert sangat ingin keluar dari sekolah tersebut. Setiap akhir pekan dia menelepon ke orang tuanya, melalui operator di sekolah. Namun orangtuanya tidak mengijinkan Robert keluar dari sekolah tersebut.

Salah satu teman Robert yang bernama Ivan (berkulit putih), sering mem-bully Nelson. Ivan lahir dan tumbuh di Zimbabwe bersama orangtuanya. Dia mengalami hidup dalam kondisi peperangan di Zimbabwe. Mungkin karena dampak perang, Ivan menyimpan dendam kepada orang kulit hitam di Zimbabwe, sangat racist, dan sangat membenci Robert Mugabe. Ivan dan keluarganya mempunyai keyakinan bahwa Mugabe akan mengambil alih semuanya, termasuk tanah dan rumah keluarga Ivan. Keyakinan Ivan tersebut berbeda dengan pandangan ayah Robert yang mengatakan bahwa Mugabe adalah pemimpin yang baik, yang akan mengakhiri perang, dan akan membuat kehidupan rakyat Zimbabwe lebih baik, tanpa memandang apakah mereka kulit hitam atau kulit putih.

Kebencian Ivan kepada orang kulit hitam dilampiaskan kepada Nelson. Ivan mengajak Robert untuk menjauh dari Nelson dan orang kulit hitam yang lain. Akhirnya Robert menjauh dari Nelson dan bergabung dengan Ivan dan gang-nya yang racist. Dan sejak itu, Robert sering menyaksikan tindakan buruk Ivan dan teman-temannya, membully orang kulit hitam. Suatu ketika Nelson menghilang, dan Robert tak tahu apa yang menimpa Nelson. Nelson tak pernah muncul lagi di sekolah. Orang tua Nelson sempat datang ke sekolah sambil menangis, tapi Robert tak paham apa yang sesungguhnya terjadi.

Hingga pada suatu hari, Robert mengalami hal buruk, yaitu diserang kerumunan lebah yang membuatnya hampir meninggal. Robert ditolong oleh seorang kulit hitam. Penolongnya tersebut tak lain adalah Weekend, sang operator telepon yang sering menyambungkan telepon Robert ke orangtuanya. Di kediaman Weekend, Robert melihat anak-anak kecil dengan kondisi mengenaskan. Anak Weekend, yang bernama Tuesday, kehilangan satu matanya karena diserang oleh gerombolan anak kulit putih. Lalu ada anak lain yang kakinya cacat dan tak sanggup berdiri, serta ada anak yang cacat karena disiram oleh larutan kimia. Kata Weekend, yang menyebabkan anak-anak itu menjadi cacat adalah gerombolan anak kulit putih yang menyerang tanpa alasan. Selain itu, Weekend juga mengatakan bahwa ada banyak anak yang hilang dan tak pernah kembali. Robert tertegun dan menjadi merasa bersalah karena ingat apa yang dilakukan oleh Ivan dan teman-temannya, dan dia tak pernah berusaha menghentikan tindakan jahat Ivan dan teman-temannya.

Sejak itu Robert menjauh dari Ivan dan berusaha mencari tahu siapa sebenarnya Ivan. Singkat cerita, Robert mengetahui bahwa Ivan beserta beberapa orang teman dan staff di sekolah merencanakan untuk membunuh Robert Mugabe. Robert berupaya untuk menggagalkan rencana pembunuhan tersebut. Akhirnya usaha Ivan untuk membunuh Mugabe gagal, dan bahkan Ivan tewas tertembak. Pemerintahan Mugabe yang menurut ayah Robert lebih baik dari yang sebelumnya, ternyata pada kenyataannya korup dan sewenang-wenang juga. Dan bayangan Ivan yang selalu muncul dalam benak Robert mengatakan “Seharusnya kamu membiarkan aku membunuhnya.”

#####

Membaca novel ini membuat saya mempunyai gambaran bahwa perang tak hanya merenggut nyawa manusia, tetapi juga meninggalkan trauma, dendam berkepanjangan, serta rasa benci dan curiga tanpa henti. Saya yang belum pernah merasakan hidup dalam kondisi perang atau konflik menjadi paham mengapa teman saya yang orang Kurdistan sangat membenci Saddam Hussein dan kroninya. Semoga perang saudara di Mesir, Syria, dan negara-negara lain yang selalu dilanda konflik bisa segera berhenti.

Newcastle upon Tyne, Juli 2013

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s