P.S.Pudyastuti's Lovely Rooms…

Learning is a long-life process, so it's never late to learn…

OXFORD

Leave a comment

Ketika saya masih kecil, saya sangat suka membaca buku karya Enid Blyton, yaitu Lima Sekawan dan Sapta Siaga. Saat itu saya belum bermimpi untuk suatu ketika berkunjung ke Inggris. Ketika menginjak usia dewasa, saya gemar membaca kisah Sherlock Holmes, mendengarkan Led Zeppelin, Rolling Stone, Beatles, dan kemudian Radiohead (group musik ini saya kenal belakangan). Kebetulan saya gemar berolahraga dan menonton pertandingan olahraga, seperti badminton, basket, dan sepakbola. Klub sepakbola favorit saya adalah Manchester United. Sebagai penggemar Manchester United, saya pernah iseng mengirim surat ke MU yang markasnya di Manchester (saat itu akses internet di Indonesia belum banyak, masih jarang ada warnet, sehingga mengirim email tidak semudah hari ini). Dan tak disangka surat saya dibalas. Balasannya tidak hanya berisi surat, tetapi juga berisi poster, foto full team lengkap dengan tanda tangan para pemain, leaflet berukuran A3 yang berisi tentang sejarah Manchester United, denah stadion Old Trafford, dll. Sayangnya saya tidak menyimpannya dengan baik, dan sekarang entah di mana kiriman dari MU tersebut. Sejak itu saya punya mimpi untuk bisa ke Inggris. Ternyata ketika menemukan jodoh, jodoh saya juga penggemar hal-hal yang terkait Inggris, termasuk Beatles dan sepakbola (suami saya penggemar Liverpool FC). Dan mimpi saya kesampaian setelah menikah dan punya anak 2, mendapat kesempatan melanjutkan studi di Inggris.

Ketika mendapat kesempatan studi S2 di Inggris, ada beberapa tempat yang ingin saya kunjungi, termasuk Machester, Liverpool, Cambridge dan Oxford. Saat akan berangkat ke Inggris untuk studi S2, ayah saya menyarankan saya untuk melepas jilbab karena khawatir sebagai Muslimah saya nanti akan mendapatkan kesulitan selama di Inggris. Saya maklum dengan kekhawatiran ayah saya karena saat itu islamophobia sedang melanda dunia, terutama di negara-negara Barat. Namun saya tidak sepakat denga saran ayah saya, dan saya tetap berjilbab saat di Inggris. Alhamdulillah saya tak pernah mendapatkan masalah di Inggris walaupun saya muslimah dan berjilbab. Berhubung masa studi S2 di Inggris itu pendek (hanya 1 tahun), dan kebetulan saat studi S2 saya hamil dan melahirkan anak ke-3, maka keinginan saya untuk mengunjungi beberapa tempat itu tidak terlaksana walaupun saya tinggal lebih lama dari rencana awal karena melahirkan. Suami saya lebih beruntung saat itu bisa mengunjungi Cambridge, Oxford, Bath, dll. Baru ketika melanjutkan S3 di Inggris (4 tahun setelah selesai S2 dan kembali ke tanah air, saya mendapat kesempatan lagi untuk S3 di Inggris), keinginan saya mengunjungi Oxford terpenuhi. Liburan musim panas tahun lalu kami sekeluarga mengunjungi Oxford setelah menabung beberapa lama, maklum beasiswa saya sangat terbatas jumlahnya.

Oxford yang lokasinya 80 km dari London ini menarik buat saya dan suami saya, karena di sana berdiri University of Oxford, salah satu universitas tertua di negara Barat, dan salah satu universitas terbaik di dunia. Banyak alumni universitas ini menjadi pemenang penghargaan Nobel (11 pemenang dalam bidang kimia, 5 pemenang dalam bidang fisika, dan 16 pemenang dalam bidang kedokteran). Ada banyak orang top yang pernah belajar di University of Oxford, termasuk Albert Einstein, Timothy John Berners-Lee (penemu World Wide Web), Stephen Hawking, Richard Dawkins, Erwin Schrodinger, Adam Smith, E.F. Schumacher hingga politisi David Cameron dan Ed Miliband. Tidak ada data pasti tentang kapan berdirinya University of Oxford, namun diperkirakan kegiatan belajar mengajar di sana telah dimulai sejak 1096. University of Oxford terdiri dari 38 colleges yang lokasinya tersebar di seluruh kota Oxford. Sebagai kota yang memiliki universitas terkenal di dunia, Oxford banyak didatangi oleh mahasiswa dari berbagai belahan dunia. Tidak mengherankan jika Oxford termasuk the most ethnically diverse cities in the UK. Berdasarkan sensus tahun 2011, 72% penduduk Oxford lahir di Inggris, sedangkan 28% sisanya lahir di luar Inggris.  (sumber dari sini)

Menurut data dari sumber ini, berdasarkan agama yang dianut oleh penduduknya, 48% penduduk Oxford adalah penganut Kristen, 33.1% tak beragama, 6.8% penganut Islam, 1.3% penganut Hindu, 0.7% penganut Yahudi, dan sisanya penganut lainnya (termasuk yang tidak menyebutkan agamanya).  Berdasarkan data ini, sepertiga penduduk Oxford tak beragama. Oxford juga disebut sebagai pusat agnostik di Inggris (sumber dari sini). Walaupun sebagai pusat agnostik di Inggris, orang yang beragama Islam tak perlu khawatir berkunjung ke Oxford karena mudah menemukan masjid di Oxford. Mencari restoran yang menyajikan makanan halal pun mudah. Sebagai minoritas di Oxford, ternyata umat Islam tak kesulitan untuk menemukan tempat beribadah di Oxford. Saya juga belum pernah mendengar di jaman modern ini ada orang yang sedang beribadah dibubarkan dan diserang di Oxford.

Sudah hampir 2 bulan ini saya kembali ke Indonesia. Ingatan saya melayang ke Oxford ketika pagi ini di media lokal diberitakan bahwa di suatu wilayah di Sleman ada sebuah rumah yang dirusak oleh segerombolan orang yang memakai baju gamis. Di rumah tersebut sedang diadakan sembahyangan oleh umat Nasrani. Tidak hanya dirusak rumahnya, bahkan pemilik rumah juga dianiaya. Membaca tentang kekerasan yang terjadi di salah satu wilayah di Sleman yang mayoritas penduduknya beragama itu, saya menjadi ingat dengan Oxford yang 1/3 warganya adalah agnostik tetapi lebih menghargai keberadaan minoritas. Saya tidak paham, apakah kekerasan semalam terjadi karena sentimen antar agama, atau ada peran intelijen menjelang pilpres. Bukan bermaksud membandingkan, tetapi saya penasaran, mengapa kota yang 1/3 warganya adalah agnostik seperti Oxford bisa menjamin keamanan warganya dan para pendatang dan tak ada kejadian pengrusakan dan penganiayaan seperti semalam terjadi di Sleman? Mungkin jawabannya bisa beragam, bisa dari sudut pandang sosial, ekonomi, politik atau pun budaya. Harapan saya (tidak muluk-muluk mengharapkan Sleman seperti Oxford), semoga di masa depan kejadian-kejadian kekerasan semacam ini di Indonesia makin berkurang (setidaknya berkurang, kalau tidak bisa dihilangkan sama sekali). Sebagai minoritas yang mengalami nyamannya hidup di Inggris, saya berharap semoga Indonesia makin memberi harapan akan kenyamanan kepada para minoritas.

Condong Catur, 30 Mei 2014.

Deretan sepeda di tempat parkir di depan Oxford Train Station.

Deretan sepeda di tempat parkir di depan Oxford Train Station.

Salah satu pajangan di Museum of the History of Science (Oxford).

Salah satu pajangan di Museum of the History of Science (Oxford).

Salah satu pajangan di Museum of the History of Science (Oxford).

Salah satu pajangan di Museum of the History of Science (Oxford).

 

oxf-6

 

Oxford Central Mosque, Oxford.

Oxford Central Mosque, Oxford.

 

Salah satu sudut kota Oxford.

Salah satu sudut kota Oxford.

 

 

Author: P.S.Pudyastuti

I am an academic staff at Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta - Indonesia. I got my Bachelor Degree (ST) from Gadjah Mada University, Indonesia, and Master Degree (M.Sc) from Loughborough University, England. I am married and have got 3 children.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s